Jakarta, VIVA – Setelah sempat mereda usai kesepakatan gencatan senjata, ketegangan geopolitik kembali memanas karena Israel tiba-tiba melancarkan serangan ke Lebanon. Merespons sekutu Amerika Serikat (AS), Iran balas dendam gempur infrastruktur energi Arab Saudi yang mengguncang pasar global.
Iran menyerang jalur pipa strategis milik Arab Saudi, pipa East-West, yang menyalurkan minyak mentah dari fasilitas pengolahan di dekat Teluk Persia ke Yanbu di Laut Merah. Akibatnya, kapasitas aliran minyak melalui pipa tersebut terpangkas hingga sekitar 700.000 barel per hari, dikutip dari CNBC Internasional pada Jumat, 10 April 2026.
Padahal, jalur pipa ini memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari dan menjadi andalan utama Arab Saudi untuk mengekspor minyak selama konflik berlangsung. Pemerintah Riyadh terpaksa mengandalkan jalur ini karena pengiriman melalui Selat Hormuz semakin tidak memungkinkan akibat meningkatnya serangan dari Iran.
Serangan Iran juga menyasar fasilitas produksi utama Arab Saudi, termasuk ladang minyak Manifa dan Khurais. Dampaknya, produksi minyak kerajaan tersebut berkurang sekitar 600.000 barel per hari.
- Ist
Beberapa kilang minyak juga dilaporkan ikut menjadi target serangan.
Gangguan ini memperparah krisis pasokan global yang sebelumnya sudah tertekan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.
Selat ini menghubungkan produsen minyak Teluk seperti Arab Saudi dan UEA ke pasar global. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur air ini sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.
CEO Abu Dhabi National Oil Company, Sultan Ahmed Al Jaber, menegaskan bahwa akses di Selat Hormuz masih sangat terbatas meski AS dan Iran telah menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan syarat pembukaan jalur pelayaran, kondisi di lapangan masih jauh dari normal. Ia mengatakan, Iran mengharuskan kapal-kapal tanker mendapatkan izin untuk melewati selat tersebut.
“Saat ini dibutuhkan kejelasan. Jadi mari kita perjelas: Selat Hormuz tidak terbuka. Akses sedang dibatasi, dikondisikan, dan dikendalikan," tulis Sultan Ahmed Al Jaber dalam unggaan di media sosial.
Analis minyak dari Kpler, Matt Smith, menyebut gangguan di kawasan Teluk telah berdampak signifikan terhadap produksi energi global.
Ia memperkirakan produsen minyak di kawasan tersebut telah menghentikan sekitar 13 juta barel per hari produksi akibat terganggunya distribusi melalui Selat Hormuz.





