Prediksi El Nino Godzilla tetapi Masih Hujan, Ahli IPB: Wajar di Masa Pancaroba

bisnis.com
18 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pemantauan terkini Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua 2026.

BMKG sendiri mencatat bahwa 7% zona iklim (ZOM) telah memasuki musim kemarau pada akhir Maret 2026. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.

Per awal April 2026, sejumlah wilayah Indonesia terpantau masih diguyur hujan dengan intensitas beragam. Menanggapi hal tersebut, dosen Geofisika dan Meteorologi dari Institut Pertanian Bogor, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika iklim yang wajar, terutama karena Indonesia saat ini masih berada dalam masa peralihan musim.

“Karena ini masih periode pancaroba [transisi], dan awal musim tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/4/2026). 

Dia menjelaskan bahwa hujan yang masih terjadi tidak serta-merta menunjukkan bahwa prediksi kemarau keliru. Menurutnya, indikasi kemarau berkepanjangan tetap terlihat dari tren kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.

“Ya, karena suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur cenderung meningkat,” jelasnya.

Baca Juga

  • Penjelasan BMKG Soal Potensi El Nino 2026, Suhu Panas Bisa Dekati Rekor?
  • OJK Siapkan Penyesuaian Premi Asuransi Imbas El Nino Ekstrem
  • Potensi Klaim Meningkat Imbas El Nino, Zurich Syariah Perkuat Mitigasi Klaim

Kondisi tersebut menjadi sinyal awal perkembangan El Niño, yang berpotensi mengurangi curah hujan di Indonesia. Berdasarkan informasi BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan akan berlangsung lebih lama dari biasanya.

“Diprediksi demikian, dengan durasi sekitar enam bulan,” tambahnya.

Selain itu, awal musim kemarau juga berpotensi datang lebih cepat, terutama di Pulau Jawa yang umumnya memasuki musim kering pada Juli.

Dia menjelaskan bahwa percepatan ini berkaitan dengan kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik tengah dan timur, yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan di wilayah Indonesia.

“Kenaikan suhu permukaan laut ini berdampak pada penurunan pembentukan awan di Indonesia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sonni menjelaskan bahwa El Niño dan La Niña merupakan hasil interaksi laut dan atmosfer skala besar yang memengaruhi sirkulasi udara di wilayah tropis, khususnya melalui Sirkulasi Walker. Fenomena ini umumnya terjadi secara periodik setiap 4 hingga 5 tahun.

“Sirkulasi Walker adalah sirkulasi barat-timur, di mana udara naik di atas benua dan turun di atas lautan,” jelasnya.

Terkait istilah yang ramai dibicarakan, yakni “El Niño Godzilla”, Sonni menyebut bahwa istilah tersebut merujuk pada kategori El Niño super dengan intensitas yang jauh lebih kuat dibandingkan kondisi normal.

“El Niño Godzilla merujuk pada El Niño super, yang terjadi ketika suhu permukaan laut di Pasifik dapat meningkat sekitar 2,5 derajat Celsius atau bahkan lebih tinggi dari peningkatan suhu permukaan laut pada peristiwa El Niño standar. El Niño Godzilla ini biasanya berlangsung rata-rata sekitar satu tahun,” jelasnya.

Fenomena serupa pernah terjadi pada 1982, 1997, dan 2015 yang memicu dampak global signifikan, seperti kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan. Meski demikian, ia menilai kondisi saat ini masih belum mencapai level tersebut.

“Sejujurnya, kekuatannya masih lemah hingga sedang,” katanya.

Dalam analisisnya, dia juga mengaitkan potensi El Niño super dengan aktivitas bintik matahari. 

“Berdasarkan data bintik matahari dan data curah hujan dari 72 stasiun di Pulau Jawa selama 35 tahun, hal itu menunjukkan bahwa intensitas El Niño dapat diperkuat oleh bintik matahari," imbuhnya. 

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa hubungan antara bintik matahari dan indikator Nino 3.4 menunjukkan pola tertentu.

“Puncak bintik matahari pada tahun 2025 berpotensi diikuti oleh El Niño yang kuat pada tahun 2026,” tambahnya.

Meski demikian, Sonni menekankan bahwa temuan tersebut masih memerlukan penguatan melalui data jangka panjang dan cakupan yang lebih luas. 

Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap mengacu pada informasi resmi serta memahami bahwa kondisi cuaca saat ini merupakan bagian dari proses transisi musim yang kompleks.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Gresik Bawa Kasus Penipuan Penerimaan PNS Modus SK Palsu ke Ranah Hukum
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Kemkomdigi Peringatkan TikTok dan Roblox Patuhi PP Tunas, Tenggat Berakhir Hari Ini
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
AJI Jakarta Gelar Pesta Media usai 14 Tahun Hiatus, Angkat Isu Kebebasan Pers-AI
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Kru Artemis II Jalani Fase Paling Krusial Sebelum Mendarat, Masuk Atmosfer Bumi
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Kebakaran Gedung Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat, 13 Unit Damkar Dikerahkan
• 21 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.