REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) melemah pada Maret 2026 meski bertepatan dengan momentum Ramadhan dan Idul Fitri. Penurunan ini mengindikasikan mulai tertekannya optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi.
Bank Indonesia mencatat IKK Maret 2026 berada di level 122,9, turun dari 125,2 pada bulan sebelumnya. Meski demikian, level tersebut masih berada di zona optimistis di atas 100. “Survei Konsumen BI pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tecermin dari IKK Maret 2026 yang berada pada level optimis (indeks>100) sebesar 122,9,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Jumat (10/4/2026).
Baca Juga
Indonesia Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I 2026 Capai 5,5 Persen
Studi: Side Hustle Jadi Strategi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi
Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Rupiah Tertekan
Penurunan IKK terjadi di tengah pelemahan persepsi terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi ke depan. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat 115,4, turun dari 115,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun ke 130,4 dari 134,4.
Pelemahan IKE dipicu turunnya persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama. Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja berada di 107,8 dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama di 109,2, keduanya lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dari sisi ekspektasi, konsumen masih optimistis terhadap penghasilan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha dalam enam bulan ke depan, meski dengan tren yang menurun. Ekspektasi penghasilan tercatat 137,7, ketersediaan kerja 128,0, dan kegiatan usaha 125,5.
Secara spasial, penurunan IKK terjadi di sebagian besar kota, terutama Pontianak, Surabaya, dan Padang. Sementara peningkatan tercatat di Bandung, Bandar Lampung, dan Samarinda.
Dari kelompok pengeluaran, optimisme tertinggi berada pada kelompok Rp4,1–5 juta dengan indeks 125,7. Berdasarkan usia, kelompok 20–30 tahun mencatat indeks tertinggi sebesar 129,6, meski mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.
Di sisi lain, pola konsumsi menunjukkan tekanan yang mulai meningkat. Proporsi pendapatan untuk konsumsi naik menjadi 72,2 persen dari 71,6 persen, sementara porsi tabungan relatif stagnan di 17,6 persen.
Sebaliknya, rasio cicilan terhadap pendapatan turun menjadi 10,2 persen dari 10,6 persen. Data ini mencerminkan masyarakat mulai mengalokasikan porsi lebih besar untuk konsumsi di tengah tekanan ekonomi, sementara ruang untuk menabung tetap terbatas.