Trump Mau Tarik Pasukan Amerika Serikat di Eropa: Gegara Soal Iran dan Greenland

wartaekonomi.co.id
20 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi untuk menarik sebagian pasukannya dari Eropa. Hal ini menyusul memburuknya hubungan negara tersebut dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Dikutip dari Reuters, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan kecewa dengan sekutunya dari Eropa. Hal tersebut karena dirinya tidak dibantu dalam perangnya melawan dan membuka Selat Hormuz di Iran.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei: Iran Akan Menuntut Ganti Rugi atas Serangan Israel dan Amerika Serikat

Trump kini dilaporkan menginginkan komitmen nyata dari negara-negara sekutu untuk membantu membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, Eropa dinilai belum menunjukkan kesiapan untuk terlibat langsung dalam operasi tersebut.

Selain Iran, ketegangan juga dipicu oleh keinginan sang presiden untuk mengakuisisi Greenland. Upaya tersebut belum membuahkan hasil dan menambah friksi dengan sekutu dari Eropa.

Gedung Putih sendiri menyatakan bahwa belum ada keputusan resmi terkait penarikan pasukan. Pentagon juga belum diminta menyusun rencana konkret. Namun, diskusi internal ini menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Washington dan NATO.

Hubungan Amerika Serikat dan organisasi tersebut berada dalam level terendah sejak aliansi tersebut berdiri pada 1949. Pertemuan Trump dan Mark Rutte sebelumnya juga tidak berhasil meredakan ketegangan.

Penarikan pasukan dari wilayah tersebut dinilai sebagai cara sang presiden untuk mengurangi komitmen keamanan tanpa harus keluar secara resmi dari NATO. Langkah ini juga berpotensi memicu perdebatan hukum di Washington.

Diketahui, Amerika Serikat memiliki lebih dari 80.000 personel militer di Eropa, 30.000 di antaranya berada di Jerman. Pasukan juga ditempatkan dalam jumlah signifikan di Italia, Inggris, dan Spanyol.

Jika terealisasi, penarikan pasukan ini dapat mengubah arsitektur keamanan dari kawasan euro yang selama ini sangat bergantung pada kehadiran militer dari Amerika Serikat. Langkah tersebut juga berpotensi memperlemah solidaritas dari NATO.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump meluapkan kekecewaannya terhadap North Atlantic Treaty Organization (NATO). Hal itu dilakukannya dalam pertemuan tertutup dengan Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization, Mark Rutte.

Rutte mengatakan bahwa sang presiden menilai organisasi tersebut telah gagal saat diuji dalam perang melawan Iran. Meski demikian, diskusi berlangsung terbuka dan tetap dalam kerangka hubungan baik.

"Dia jelas kecewa dengan banyak sekutu dan saya bisa memahami sudut pandangnya. Ini adalah diskusi yang sangat jujur ​​dan terbuka, tetapi juga diskusi antara dua teman baik," kata Rutte.

Baca Juga: Soroti Kasus Netanyahu, Iran Waspada Serangan Amerika Serikat Saat Negosiasi di Pakistan

Rutte sendiri mengatakan bahwa sebagian besar negara anggota aliansi tetap memberikan dukungan di Iran. Meski demikian, ada beberapa yang dinilai tidak memenuhi komitmen. Diketahui, beberapa negara sekutu menolak memberikan akses wilayah udara bagi pesawat militer atau enggan mengirimkan kapal untuk membantu membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
PP Tunas bantu orang tua lindungi masa depan anak
• 21 jam laluantaranews.com
thumb
Putar Otak Zulkifli Syukur dan Ahmad Amiruddin Ingin PSM Kalahkan PSIM Yogyakarta
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Patuhi PP Tunas, Meta Naikkan Batas Usia Pengguna Jadi 16 Tahun
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Paradoks Produktivitas: Mengapa Karyawan Terbaik Justru Paling Cepat Resign?
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Ucap Sumpah di Hadapan Prabowo, Liliek Prisbawono Adi Sah Jadi Hakim MK
• 19 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.