EtIndonesia. 900 detik terakhir sebelum rudal militer AS dijatuhkan, sebuah perintah dari Washington menghentikan semuanya secara tiba-tiba. Apa yang sebenarnya terjadi? Laporan mengungkap bahwa menghadapi ultimatum dari Presiden Donald Trump, pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya sejak perang dimulai memerintahkan tim negosiasi untuk bergerak menuju tercapainya kesepakatan.
Sebelum AS dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata, militer AS sedang bersiap melancarkan pemboman besar-besaran terhadap infrastruktur Iran, tanpa mengetahui secara pasti bagaimana situasi akan berkembang selanjutnya.
Menurut laporan media AS Axios yang mewawancarai 11 sumber terkait, utusan khusus AS, Steve Witkoff, pada Senin (6 April) mengatakan kepada mediator bahwa “10 poin kontra-usulan” dari Iran merupakan “bencana besar”.
Selanjutnya, mediator dari Pakistan bolak-balik menyampaikan draf baru antara Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sementara Mesir dan Turkiye berupaya menjembatani perbedaan.
Pada Senin malam, mediator telah memperoleh persetujuan AS atas proposal terbaru berupa gencatan senjata selama dua minggu. Pemimpin baru Iran yang memegang keputusan akhir, Mojtaba Khamenei, juga secara rahasia terlibat dalam seluruh proses pada Senin hingga Selasa (7 April), terutama berkomunikasi melalui catatan tertulis.
Sumber menyebut bahwa persetujuan Khamenei untuk memungkinkan tercapainya kesepakatan merupakan sebuah “terobosan”. Araghchi memainkan peran kunci, sementara Partai Komunis Tiongkok disebut mendorong Iran mencari jalan keluar dari konflik.
Pada Selasa pagi, saat Trump mengeluarkan peringatan bahwa “peradaban Iran akan hancur”, sebenarnya kedua pihak sudah membuat kemajuan dalam negosiasi.
Menjelang tengah hari waktu AS pada Selasa, berbagai pihak meyakini bahwa kesepakatan gencatan senjata dua minggu hampir tercapai. Tiga jam kemudian, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan rincian kesepakatan melalui platform X dan menyerukan kedua pihak untuk menerimanya. Trump kemudian menerima berbagai telepon dan pesan dari sekutu serta penasihat garis keras yang mendesaknya untuk menolak kesepakatan tersebut.
Sebelum merespons secara publik, Trump berbicara dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk memastikan komitmen terhadap gencatan senjata. Ia kemudian juga berbicara dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, yang akhirnya menyelesaikan kesepakatan tersebut.
Satu setengah jam sebelum batas waktu ultimatum berakhir, Trump mengumumkan penerimaan kesepakatan gencatan senjata dua minggu. Lima belas menit kemudian, militer AS menerima perintah untuk menghentikan operasi.
Tak lama setelah itu, Araghchi mengumumkan bahwa Iran akan mematuhi kesepakatan dan membuka kembali Selat Hormuz.
Reporter NTD Television Guo Yuexi melaporkan dari Amerika Serikat.





