Efriza Sebut Pernyataan Hashim soal Kudeta Presiden Bisa Jadi Alarm Politik

jpnn.com
15 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - Peneliti senior Citra Institute, Efriza menyatakan Hashim Djojohadikusumo terkait isu ada yang ingin melakukan kudeta terhadap presiden perlu disikapi dengan sangat hati-hati. 

Dia menjelaskan pernyataan itu bisa dilihat dari dua sisi yakni sebagai peringatan dini atau strategi penguatan internal.

BACA JUGA: Hashim: Ada yang Mau Kudeta Prabowo

"Pernyataan Hashim ini perlu dilihat secara hati-hati. Jika dianggap sebagai alarm politik, silakan saja. Sebab, negara punya lembaga intelijen, sehingga kemungkinan benarnya informasi tersebut tetap cukup rasional," kata Efriza kepada JPNN.com, Jumat (10/4).

Namun, dia menyebutkan ada kemungkinan narasi ini mencuat sebagai upaya konsolidasi kekuasaan.

BACA JUGA: Hashim Curhat soal Kudeta, PDIP Pertanyakan Wibawa Prabowo di Mata TNI

Hal ini bertujuan agar seluruh elemen kekuatan pendukung Presiden Prabowo tetap kompak dan waspada terhadap segala kemungkinan gangguan politik.

"Namun, pernyataan Hashim juga dapat dibaca sebagai upaya konsolidasi kekuasaan, agar kekuatan-kekuatan pendukung Presiden Prabowo kompak," lanjutnya. 

BACA JUGA: Sahroni Mengaku Sempat Diperas Rp 300 Juta oleh Utusan KPK Gadungan, Begini Ceritanya

Di sisi lain, menurutnya tanpa transparansi dan bukti yang jelas, pernyataan seperti ini justru berpotensi menimbulkan kegelisahan publik. 

"Jika dibiarkan tanpa klarifikasi terukur, hanya akan menjadi spekulasi liar yang tidak produktif bagi stabilitas nasional," kata Efriza.

Isu kudeta ini seolah menjadi kelanjutan dari dinamika politik yang memanas setelah pernyataan Saiful Mujani viral. 

"Kritik Mujani dianggap beberapa pihak bernada tendensius dan seolah-olah memiliki muatan untuk menggoyang posisi Presiden Prabowo,"jelasnya.

Dia juga menjelaskan sebenarnya Presiden Prabowo sendiri dalam berbagai kesempatan telah berulang kali mengingatkan pihak-pihak yang mencoba merongrong pemerintah. 

Prabowo meminta semua pihak untuk bersabar dan menunggu hingga Pemilu berikutnya jika ingin melakukan perubahan kepemimpinan secara konstitusional.

Pemerintah kini dituntut untuk memberikan penjelasan yang menyejukkan agar stabilitas politik tetap terjaga. 

Hal ini penting agar isu-isu kudeta semacam ini tidak menimbulkan kegaduhan yang justru merugikan masyarakat luas.

"Kehati-hatian adalah kunci. Jangan sampai narasi-narasi politik seperti ini malah mengganggu fokus pemerintah dalam bekerja untuk rakyat," pungkas Efriza.(mcr8/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Kenny Kurnia Putra


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengakuan Mencengangkan Cak Imin Terkait Diusung PKB Jadi Presiden 2029
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasus Korupsi Jembatan Marok Kecil, Majelis Hakim Gelar Sidang Lapangan
• 10 jam lalutvrinews.com
thumb
Panglima TNI: Perkuat Kemandirian Pangan di Tengah Dinamika Geopolitik Global
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Honda Vario 125 Street Beda Nasib di 2 Negara
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Filsafat Bertemu Krisis Ekologi: Pandangan Stoik pada Isu Lingkungan Indonesia
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.