Di tengah kondisi ekonomi global yang belum baik-baik saja, ruang kolaborasi kian memberi arti penting. Di Jambi, ruang itu dibuka dengan mempertemukan langsung para pelaku bisnis dan usaha mikro kecil dan menengah. Forum itu menjadi muara bertemunya kebutuhan dan suplai.
”Jambi Bussiness Matching Forum 2026” digelar di Kota Jambi, Kamis (9/4/2026). Forum ini mempertemukan puluhan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) unggulan di sektor kriya, kuliner, dan wastra serta para pelaku industri perhotelan dan badan usaha milik negara (BUMN). Bagi pelaku UMKM, momen ini menjadi kesempatan berharga membuka pasar baru seluas-luasnya.
Selama ini, meskipun cukup banyak industri perhotelan dan restoran tumbuh di Jambi, keberadaannya dinilai belum optimal menyerap produk-produk lokal. Ada pelaku industri yang lebih memilih untuk memesannya dari Jawa dengan anggapan harganya lebih murah dan pesanan cepat terpenuhi dalam volume besar. Kondisi ini menunjukkan ada jarak di antara pelaku industri dan pelaku UMKM.
“Padahal, sudah banyak UMKM lokal yang mampu memenuhi pesanan dalam jumlah besar,” ujar Azi, pemilik usaha “Batoku” yang mengolah tempurung kelapa menjadi suvenir khas Jambi.
Ia menyebut banyak pelaku usaha kriya lokal yang telah bertransformasi alias naik kelas. Mereka yang dulunya hanya berproduksi kecil-kecilan, kini berani untuk memproduksi dalam jumlah besar. Mereka berani meningkatkan kualitas produknya dan mempercantik pengemasannya. Di tempat usahanya, untuk pesanan 100 buah suvenir gantungan kunci sudah bisa dipenuhi dalam waktu 2-3 hari saja.
Begitu pula Deny Moroyati, pemilik usaha D’moroy yang mengolah daun pandan menjadi tas anyaman. Ia melibatkan dan memberdayakan komunitas perajin di Kota Jambi dan Kabupaten Muaro Jambi agar makin kompetitif dalam memenuhi pesanan dalam jumlah besar. Para pelaku usaha kriya lokal sangat berharap pasar bisa terbuka lebar lewat berbagai inisiatif kolaborasi. “Kami berharap forum ini bisa berkelanjutan, tak berhenti sampai di sini,” katanya.
Dalam sambutannya, Gubernur Jambi Al Haris mengatakan, kondisi ekonomi global yang belum stabil turut berdampak pada daerah. Pertumbuhan ekonomi Jambi berada pada angka 4,93 persen. Di balik itu tersirat adanya perlambatan, terutama pada daya beli masyarakat. Fenomena ini dirasakan, termasuk dalam momentum Lebaran yang lalu yang biasanya identik dengan adanya lonjakan konsumsi.
Penurunan daya beli tersebut, menurut Haris, tidak lepas dari perubahan pola belanja negara. Distribusi anggaran kini lebih terpusat. Akibatnya, peredaran uang di daerah berkurang. Hal itu ikut berimbas pada melemahnya aktivitas ekonomi lokal, termasuk sektor jasa seperti perhotelan. Tingkat hunian hotel menurun, kegiatan pertemuan berkurang, dan rantai ekonomi yang bergantung padanya ikut melemah.
Dalam situasi seperti ini, lanjutnya, penguatan UMKM menjadi salah satu tumpuan. Selain jumlahnya yang besar, sektor ini terbukti mampu menyerap tenaga kerja dan menjadi bantalan ekonomi masyarakat. “Pemerintah daerah mendorong pembinaan, termasuk dukungan permodalan bagi pelaku usaha rumahan hingga pengembangan startup,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jambi, Kemas Fuad, menekankan pentingnya penggunaan produk lokal sebagai bagian dari strategi penguatan ekonomi daerah. Di sisi lain, UMKM diharapkan terus berupaya meningkatkan kualitas produk, digitalisasi, hingga akses pasar yang lebih luas.
Pihaknya mendukung forum yang digagas oleh Rumah BUMN Jambi tersebut. “Ini dirancang sebagai jembatan antara kebutuhan pasar dan kapasitas produksi UMKM. Sektor perhotelan dan restoran, yang memiliki kebutuhan rutin dan berkelanjutan, diposisikan sebagai mitra strategis sekaligus pasar potensial bagi produk-produk lokal,” ujarnya.
Forum ini membuka kurasi produk, pemetaan kebutuhan, hingga penjajakan kerja sama secara langsung. Para pelaku UMKM didorong untuk meningkatkan standar, mulai dari kualitas produk, kemasan, hingga legalitas usaha. Di sisi lain, pelaku industri diharapkan membuka ruang lebih luas bagi produk lokal dalam rantai pasok mereka.
Deko Sanjaya, CEO Rumah BUMN Jambi, menyebut forum ini sebagai bagian dalam ikhtiar membangun ekosistem usaha yang terintegrasi. Potensi UMKM tidak akan optimal tanpa dukungan. Pemerintah, BUMN, dan pelaku industri perlu berjalan beriringan untuk menciptakan peluang yang berkelanjutan.
Diskusi dalam forum tersebut juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi UMKM, di antaranya soal konsistensi kualitas produk, kapasitas produksi, serta kemampuan komunikasi bisnis. “Namun, di balik tantangan itu, ada peluang besar agar produk lokal masuk ke sektor hospitality sebagai bagian dari identitas daerah,” tuturnya.
Ia melanjutkan, hotel tidak lagi sekadar penyedia jasa akomodasi. Harapannya, hotel dapat menjadi etalase bagi produk-produk lokal, mulai dari makanan, kriya, hingga dekorasi berbasis kearifan lokal. Sebab, pengalaman yang ditawarkan kepada tamu tidak hanya soal layanan, tetapi juga cerita tentang daerah.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Jambi, Yudi Irwanda, mengatakan industri hotel kian membuka diri pada produk lokal. Di satu sisi, ia berharap kalangan UMKM terus memperbaiki kualitas, kuantitas, dan pengemasan produk. Jangan sampai ketika industri sudah membuka kerja sama, malah pihak UMKM tak sanggung memenuhi keberlanjutannya. Dengan demikian, hal itu harus dipersiapkan sejak awal.





