Biaya Konstruksi Melonjak Imbas Tensi Geopolitik, Gapensi Dorong Pemerintah Sesuaikan Harga

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Asosiasi kontraktor yang tergabung dalam Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) menilai, kondisi global yang berdampak pada kenaikan harga energi khususnya bahan bakar industri, telah memicu peningkatan biaya konstruksi secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Umum Gapensi, Andi Rukman Nurdin Karumpa, menyampaikan keprihatinan atas tekanan yang dihadapi sektor jasa konstruksi nasional, akibat kenaikan biaya operasional dan dinamika kebijakan pengadaan proyek pemerintah.

Baca Juga :
Tak Hanya Ramai, Ini 8 Fakta Kota Surabaya dan Perannya bagi Negara
Waspadai Krisis Energi Imbas Perang Iran-AS, Bahlil Ajak Masyarakat Hemat Energi

“Dalam periode Februari hingga April 2026, kami melihat kenaikan biaya konstruksi dapat mencapai 3% hingga 8%, dan berpotensi meningkat lebih tinggi apabila kondisi ini berlanjut," kata Andi dalam keterangannya, Jumat, 10 April 2026.

jasa kontraktor
Photo :
  • socio.viva.co.id

Dia mengatakan, kenaikan harga solar industri yang saat ini berada di kisaran Rp 21.000–Rp 23.000 per liter dari sebelumnya Rp 18.000–Rp 20.000 per liter, turut mendorong kenaikan harga material seperti aspal, semen, dan baja.

Menanggapi kondisi tersebut, Gapensi pun meminta pemerintah untuk segera melakukan penyesuaian harga (eskalasi) terhadap proyek-proyek yang belum dikontrak.

"Hal itu mengingat harga acuan yang digunakan masih berdasarkan kondisi tahun sebelumnya," ujarnya.

Senada, Sekretaris Jenderal Gapensi, La Ode Safiul Akbar menegaskan, tanpa adanya penyesuaian harga, kontraktor berpotensi mengalami kerugian yang signifikan. 

“Kami meminta agar proyek yang belum berkontrak diberikan ruang untuk penyesuaian harga agar pelaku usaha tidak menanggung beban biaya yang tidak sesuai dengan kondisi riil saat ini,” kata La Ode.

Selain itu, Dia juga menekankan pentingnya pemerataan kesempatan kerja, bagi pelaku usaha konstruksi nasional khususnya anggota asosiasi. 

Beberapa poin utama yang disampaikan oleh Gapensi antara lain sebagai berikut:

• Proyek konstruksi sebaiknya ditenderkan secara terbuka, bukan melalui skema swakelola dalam skala besar

• Paket pekerjaan bernilai besar diharapkan dapat melibatkan swasta nasional, bukan hanya BUMN

• Praktik swakelola dinilai berpotensi menghambat partisipasi kontraktor dan menimbulkan ketidakpastian pembayaran 

"Gapensi mengingatkan bahwa dominasi skema tertentu dapat berdampak pada menurunnya jumlah pelaku usaha konstruksi, yang tercermin dari penurunan jumlah anggota secara nasional dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.

Baca Juga :
Distribusi Energi di Selat Hormuz Mandek, Pemerintah Pacu Diversifikasi Impor BBM
Harga RAM Naik! Ini Cara Merakit PC Gaming Tanpa Boncos
Bocoran Terbaru: Harga PS6 Dikabarkan Lebih Murah dari PS5

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
BPOM Sita 122 Tabung Gas Tawa yang Diedarkan via Online
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Apakah Gencatan Senjata Mengakhiri Perang?
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Kejagung Pamerkan Uang Rp 11,4 Triliun, Bakal Masuk Kas Negara
• 11 jam lalukompas.com
thumb
IHSG Sesi I Melesat 2,02 Persen ke 7.455
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
IPO pertama 2026, antusias investor dorong saham WBSA naik 35 persen
• 16 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.