Tajamnya Bek PSM Makassar: Cetak Gol ke Gawang PSIM, Dusan Lagator Ikuti Jejak Yuran Fernandes dan Aloisio Neto

harianfajar
14 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, YOGYAKARTA — Di tengah riuhnya kompetisi BRI Super League musim 2025/2026, PSM Makassar perlahan menemukan kembali denyut permainan terbaiknya. Bukan hanya dari lini depan atau kreativitas gelandang, tetapi justru dari sektor yang selama ini identik dengan ketenangan dan kehati-hatian: lini belakang.

Kemenangan dramatis 2-1 atas PSIM Yogyakarta di pekan ke-27 menjadi potret paling mutakhir dari transformasi itu. Dalam laga yang digelar di Yogyakarta, Jumat (10/4/2026), PSM tidak hanya memperlihatkan daya juang, tetapi juga menegaskan bahwa bek kini bukan sekadar penjaga, melainkan penentu.

Nama Dusan Lagator menjadi sorotan utama. Ia mungkin bukan pemain yang sejak awal dibebani ekspektasi besar. Namun sepak bola kerap menghadirkan kisah tak terduga—dan pada malam itu, Lagator menjelma menjadi pahlawan. Golnya di menit ke-99 memastikan kemenangan bagi Juku Eja, sekaligus menegaskan bahwa peran bek dalam sepak bola modern telah mengalami evolusi yang signifikan.

Pertandingan sendiri berjalan dalam tempo tinggi sejak awal. Bermain di hadapan publik sendiri, PSIM tampil agresif. Dominasi penguasaan bola mencapai 61 persen, menunjukkan bagaimana Laskar Mataram berupaya mengontrol ritme permainan. Kreativitas Ze Valente di lini tengah menjadi motor serangan, mengalirkan bola ke berbagai sisi dan mencoba membongkar pertahanan rapat PSM.

Namun, disiplin tetap menjadi identitas utama tim asuhan Bernardo Tavares. Meski harus melakukan sepuluh pelanggaran di babak pertama—bahkan Yuran Fernandes diganjar kartu kuning sejak menit ketiga—PSM tetap mampu menjaga gawangnya dari kebobolan. Babak pertama pun berakhir tanpa gol, tetapi menyimpan ketegangan yang terasa menggantung.

Memasuki babak kedua, skenario berubah. PSIM berhasil memecah kebuntuan melalui gol Deri Corfe di menit ke-54. Stadion bergemuruh, dan untuk sesaat, PSM tampak berada di bawah tekanan besar. Namun justru di titik itulah karakter mereka diuji.

PSM merespons dengan cara yang khas: sabar, disiplin, dan memanfaatkan momentum. Gol penyama kedudukan datang dari Luka Cumic di menit ke-79, menghidupkan kembali harapan. Dan ketika pertandingan tampak akan berakhir imbang, Lagator muncul sebagai pembeda.

Gol di menit ke-99 bukan sekadar penentu kemenangan. Ia adalah simbol perubahan—bahwa ancaman PSM kini datang dari berbagai arah, termasuk dari lini belakang.

Fenomena ini sejatinya bukan hal baru di tubuh PSM. Sebelumnya, duet bek tengah Yuran Fernandes dan Aloisio Neto telah lebih dulu menunjukkan bagaimana bek bisa menjadi senjata dalam menyerang. Dalam beberapa pertandingan terakhir, keduanya kerap menjadi target utama dalam situasi bola mati.

Saat menghadapi Persita Tangerang, misalnya, meski PSM kalah 4-2, kontribusi mereka tetap terasa. Sundulan Neto membuka peluang, sementara Yuran menambah gol melalui titik penalti. Mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga aktif menciptakan ancaman.

Pola serupa kembali terlihat saat menghadapi Malut United. Dalam situasi tertinggal, kehadiran Yuran dan Neto di kotak penalti lawan menciptakan kekacauan yang berujung gol penyama kedudukan. Pergerakan tanpa bola, duel udara, hingga kemampuan membaca situasi menjadikan keduanya sebagai elemen penting dalam skema ofensif.

Kini, dengan munculnya Lagator sebagai pencetak gol krusial, PSM seakan memiliki dimensi baru. Tidak lagi bergantung pada satu atau dua nama, tetapi menghadirkan variasi ancaman yang lebih luas.

Bagi Yuran sendiri, periode ini juga terasa seperti fase kebangkitan. Sempat diragukan di pertengahan musim, bahkan dikaitkan dengan rumor transfer, ia kini kembali menunjukkan kualitas sebagai pemimpin di lini belakang. Golnya saat melawan Persis Solo menjadi salah satu penegas bahwa ia belum habis.

Transformasi peran bek di PSM mencerminkan tren yang lebih luas dalam sepak bola modern. Bek tidak lagi hanya berdiri di garis terakhir pertahanan. Mereka dituntut untuk mampu membaca permainan secara menyeluruh, ikut membangun serangan, hingga menjadi eksekutor dalam situasi tertentu.

Dalam konteks PSM, perubahan ini bukan sekadar taktik, tetapi juga identitas baru. Tim ini kini bermain dengan keseimbangan—bertahan dengan disiplin, menyerang dengan keberanian, dan memanfaatkan setiap peluang sekecil apa pun.

Kemenangan atas PSIM mungkin hanya satu dari sekian banyak pertandingan dalam satu musim panjang. Namun di balik itu, tersimpan narasi yang lebih dalam: tentang bagaimana peran yang dulu dianggap statis kini menjadi dinamis, tentang bagaimana pemain yang tak diunggulkan bisa menjadi penentu, dan tentang bagaimana sebuah tim menemukan kekuatannya dari tempat yang tak terduga.

Di titik inilah, PSM Makassar tidak hanya sekadar meraih tiga poin. Mereka sedang menulis ulang cara mereka bertarung—dengan para bek sebagai ujung tombak yang diam-diam mematikan


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Reimagining Education, SIS Group Launches New Global Citizen Hub in East Jakarta
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cuma Dikasih Rp300 Ribu? Michelle Ashley Bongkar Dugaan Nafkah Arya Khan ke Pinkan Mambo, Singgung Tak Tulus dan Hanya Pansos
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Menhaj Ingin Ada ‘War Ticket’, Bagaimana Perjalanan Sistem Antrean Haji di RI?
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Bank Indonesia Percepat Digitalisasi UMKM di Bali
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
BEI Sebut Emiten dengan HSC Bakal Lakukan Aksi Korporasi
• 23 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.