REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perang melawan Iran membawa Presiden Donald J Trump tak hanya menjadi sasaran kritik dari politik domestik, yakni oposisi Partai Demokrat, politisi Republik yang tidak puas, komika, para demonstran di jalanan hingga dari luar negeri, yakni Vatikan.
Paus Leo XIV yang notabene merupakan Paus berkebangsaan Amerika serikat, secara langsung, menyinggung Presiden AS dalam perang di Iran yang untuk sementara berhenti setelah gencatan senjata rapuh selama dua pekan.
Baca Juga
3 Analis Membedah Bagaimana Iran Mengubah Bertahan Menjadi Kemenangan
Bagaimana Iran Mengubah Wajah Ekonomi Dunia Usai Perang
AP News menulis, perseteruan ini memuncak menyusul pernyataan keras Paus Leo XIV yang menyebut perang Trump di Iran sebagai tindakan yang "benar-benar tidak dapat diterima." Fenomena ini menciptakan kontras yang tajam antara dua sosok dari generasi yang sama—seorang politisi asal Queens dan seorang pontifex asal Chicago—yang membawa pendekatan kekuasaan yang bertolak belakang.
View this post on Instagram
A post shared by Republika Online (@republikaonline)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Gedung Putih, yang memiliki kedekatan erat dengan tokoh-tokoh Protestan evangelis konservatif, berulang kali mengeklaim bahwa agresi militer terhadap Iran memiliki "restu surgawi". Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menyerukan rakyat Amerika untuk berdoa demi kemenangan "dalam nama Yesus Kristus."
Meski demikian, Paus Leo XIV dalam pesan Minggu Palma secara tegas mematahkan klaim tersebut. Mengutip nubuat Nabi Yesaya, Paus menegaskan bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa mereka yang tangannya berlumuran darah.
"Paus Leo melihat agresi ini bukan sekadar dinamika politik, melainkan pelanggaran terhadap norma internasional dan ajaran kitab suci yang telah dibangun selama lima abad," ujar Profesor William Barbieri dari Catholic University.
Seorang pria memegang plakat bergambar Presiden AS Donald Trump sebagai vampir saat protes Tanpa Raja di New York City, AS. - (REUTERS/Shannon Stapleton)