Jakarta, VIVA – Pemerintah di Afrika Selatan mengungkapkan bahwa kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayahnya bukan disebabkan oleh kekurangan pasokan nasional, melainkan akibat panic buying dan gangguan distribusi.
Menteri di Kantor Presiden, Khumbudzo Ntshavheni, mengatakan bahwa stok bahan bakar negara tersebut masih dalam kondisi aman untuk jangka pendek.
“Kami ingin meyakinkan warga Afrika Selatan bahwa pasokan bahan bakar di negara ini tetap stabil,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari IOL, Jumat, 10 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa antrean panjang dan kekosongan di beberapa stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) terjadi karena kendala logistik yang dipicu oleh perilaku masyarakat.
“Kekurangan yang terjadi di beberapa SPBU saat ini disebabkan oleh kendala logistik akibat panic buying dan penimbunan bahan bakar. Warga Afrika Selatan diimbau untuk tidak melakukan panic buying dan penimbunan bahan bakar,” katanya.
Menurutnya, perilaku tersebut justru memperburuk distribusi yang sebenarnya masih mencukupi. “Namun kami memiliki pasokan yang cukup untuk saat ini. Jadi, tergantung bagaimana masyarakat Afrika Selatan berperilaku, itu yang akan menentukan sejauh mana pasokan tetap tersedia.”
Pemerintah juga menegaskan bahwa ketergantungan Afrika Selatan terhadap kawasan Timur Tengah tidak sebesar yang diperkirakan. Negara tersebut memperoleh minyak mentah dari Angola dan Nigeria, sementara impor dari Timur Tengah hanya berupa produk olahan.
“Minyak mentah kami berasal dari Angola dan Nigeria. Yang kami impor dari Timur Tengah hanya produk olahan,” kata Ntshavheni. Ia menambahkan bahwa Afrika Selatan sebenarnya memiliki kapasitas pengolahan sendiri, meski saat ini belum sepenuhnya optimal.
“Sebagian dari pertimbangan jangka menengah hingga panjang adalah membangun kembali kapasitas pengolahan kami, karena tidak aman bagi suatu benua untuk bergantung pada benua lain,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah kenaikan harga bahan bakar yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah Afrika Selatan. Kenaikan harga mulai berlaku pada 1 April 2026, mengikuti lonjakan harga minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
Harga bensin naik sebesar R3,06 per liter. Dengan asumsi kurs sekitar Rp850 per rand, kenaikan ini setara sekitar Rp2.601 per liter. Sementara itu, harga solar meningkat antara R7,37 hingga R7,51 per liter, atau sekitar Rp6.264 hingga Rp6.383 per liter. Harga parafin bahkan naik R11,67 per liter, setara sekitar Rp9.919.





