FAJAR, BANDUNG — Di tengah ambisi besar Persib Bandung untuk terus mengukuhkan dominasi di pentas BRI Super League, satu nama kembali menjadi pusat perhatian: Bojan Hodak. Pelatih asal Kroasia itu bukan sekadar sosok di balik layar, melainkan arsitek utama kebangkitan Maung Bandung dalam dua musim terakhir—periode yang ditandai dengan gelar juara beruntun dan konsistensi performa yang sulit ditandingi.
Kini, ketika kompetisi memasuki fase krusial, Persib berada di ambang sejarah baru. Dengan keunggulan empat poin atas pesaing terdekat seperti Borneo FC dan menyisakan delapan pertandingan, peluang untuk kembali mengangkat trofi terbuka lebar. Situasi ini membuat manajemen klub tak ingin mengambil risiko kehilangan sosok yang telah terbukti mampu menjaga stabilitas sekaligus menghadirkan prestasi.
Pembicaraan kontrak baru pun bergulir. Di balik meja negosiasi, ada kesadaran bersama bahwa Hodak bukan lagi sekadar pelatih sementara seperti saat pertama kali datang menggantikan Luis Milla. Ia kini adalah fondasi dari proyek jangka menengah Persib—sebuah proyek yang tidak hanya menargetkan supremasi domestik, tetapi juga eksistensi di level Asia.
Perjalanan Hodak sendiri di Bandung memang terasa seperti skenario yang tak sepenuhnya direncanakan. Datang sebagai solusi darurat, ia hanya diberi kontrak jangka pendek. Namun sepak bola kerap memberi ruang bagi mereka yang mampu menjawab tekanan dengan hasil. Gelar juara Liga 1 menjadi titik balik, diikuti perpanjangan kontrak yang mengubah statusnya dari “pengganti” menjadi “pemimpin”.
Musim ini, sentuhan tangan dinginnya kembali terlihat. Persib tidak hanya stabil di liga, tetapi juga menunjukkan daya saing di level kontinental. Keberhasilan menembus fase gugur AFC Champions League Two menjadi bukti bahwa tim ini tidak sekadar kuat di kandang sendiri. Meski langkah mereka terhenti oleh Ratchaburi FC, pengalaman tersebut memperkaya mental dan struktur permainan tim.
Namun, di balik keberhasilan itu, ada dimensi lain yang mulai mencuat ke permukaan: nilai ekonomi seorang pelatih. Dalam sepak bola modern, prestasi tak hanya diukur dari trofi, tetapi juga dari bagaimana klub menghargai sosok di baliknya. Di sinilah perbandingan menarik muncul—antara Hodak dan pelatih tim nasional Indonesia, John Herdman.
Nama Herdman belakangan menjadi sorotan setelah dikabarkan resmi menangani Timnas Indonesia mulai 2026. Dengan latar belakang internasional yang kuat, ia disebut menerima bayaran sekitar 40 ribu dolar AS per bulan—setara kurang lebih Rp670 juta. Angka ini mencerminkan keseriusan PSSI dalam membangun fondasi baru bagi sepak bola nasional, terutama dengan target besar menuju Piala Asia AFC 2027.
Menariknya, jika melihat estimasi yang beredar, pendapatan Hodak justru berada sedikit di atas angka tersebut. Dengan kisaran Rp10 miliar per musim, ia memperoleh sekitar Rp830 juta per bulan—meski dengan catatan bahwa struktur kontrak pelatih klub berbeda dengan pelatih tim nasional. Ada bonus performa, target kompetisi, hingga tekanan jadwal yang jauh lebih padat.
Perbandingan ini membuka perspektif baru: bahwa kompetisi di level klub Indonesia kini tidak lagi bisa dipandang sebelah mata, bahkan dalam konteks finansial. Persib, sebagai salah satu klub dengan basis suporter terbesar dan manajemen profesional, berani menempatkan pelatih sebagai investasi utama.
Di sisi lain, Hodak sendiri tampak tidak terburu-buru mengambil keputusan. Pernyataannya yang masih mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan menunjukkan bahwa karier pelatih modern tidak hanya ditentukan oleh angka kontrak, tetapi juga keseimbangan personal dan tantangan profesional.
Sementara itu, fokus jangka pendek tetap menjadi prioritas. Laga melawan Bali United di Stadion Gelora Bandung Lautan Api menjadi ujian berikutnya. Dengan skuad yang hampir lengkap—kecuali Julio Cesar yang absen—Persib memiliki modal kuat untuk menjaga momentum. Kembalinya Patricio Matricardi serta pulihnya kondisi Beckham Putra menambah kedalaman tim di fase krusial ini.
Delapan pertandingan tersisa bukan sekadar rangkaian laga, melainkan jalan menuju legitimasi. Jika mampu memenangkan mayoritas pertandingan—atau memanfaatkan terpelesetnya pesaing—Persib bisa lebih cepat mengunci gelar. Dan jika itu terjadi, maka kontrak baru Hodak bukan lagi sekadar formalitas, melainkan konsekuensi logis dari keberhasilan yang terukur.
Pada akhirnya, kisah ini bukan hanya tentang siapa yang bergaji lebih tinggi antara Hodak dan Herdman. Ini adalah tentang bagaimana sepak bola Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih profesional—di mana pelatih dihargai sebagai aset strategis, dan prestasi diterjemahkan ke dalam kepercayaan jangka panjang.
Di tengah dinamika itu, publik hanya menunggu satu hal: apakah tangan dingin Bojan Hodak akan kembali menuntun Persib Bandung menuju puncak—dan sekaligus menegaskan bahwa investasi besar di pinggir lapangan memang layak diperjuangkan.





