Biaya Konstruksi Naik hingga 8 Persen, Pengusaha Desak Pemerintah Sesuaikan Nilai Proyek

idxchannel.com
3 jam lalu
Cover Berita

Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mengeluhkan lonjakan biaya operasional akibat dampak konflik di kawasan Timur Tengah.

Biaya Konstruksi Naik hingga 8 Persen, Pengusaha Desak Pemerintah Sesuaikan Nilai Proyek. (Foto Iqbal Dwi/IMG)

IDXChannel - Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) mengeluhkan lonjakan biaya operasional akibat dampak konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi global. Kondisi ini dinilai semakin menekan keberlangsungan usaha kontraktor, khususnya skala kecil dan menengah.

Ketua Umum Gapensi Andi Rukman Nurdin Karumpa mengatakan, kenaikan harga bahan bakar industri telah berdampak langsung terhadap biaya konstruksi dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini membuat margin pengusaha semakin tertekan. 

Baca Juga:
Banyak Libur Nasional Berdekatan, Pengusaha Ritel Keluhkan Keterlambatan Pasokan Barang Impor

“Dalam periode Februari hingga April 2026, kenaikan biaya konstruksi mencapai 3 persen  hingga 8 persen, dan berpotensi meningkat jika situasi global tidak membaik,” ujarnya dalam konferensi pers, Jakarta, Jumat (10/4/2026).

Dia menjelaskan, harga solar industri kini berada di kisaran Rp21.000–Rp23.000 per liter, naik signifikan dari sebelumnya Rp18.000–Rp20.000 per liter. Kenaikan ini turut memicu lonjakan harga material utama seperti aspal, semen, dan baja.

Baca Juga:
Barang Impor Telat Masuk ke Indonesia, Pengusaha Minta Bantuan Pemerintah

Gapensi mendesak pemerintah segera melakukan penyesuaian nilai proyek atau eskalasi harga, terutama untuk proyek-proyek yang belum memasuki tahap kontrak. Sebab, banyak proyek masih menggunakan acuan harga lama yang tidak lagi relevan dengan kondisi pasar saat ini.

Baca Juga:
Pengusaha Minta Relaksasi Impor Bahan Baku di Tengah Belum Usainya Perang AS vs Iran

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Gapensi La Ode Safiul Akbar menegaskan, tanpa adanya penyesuaian, kontraktor berisiko menanggung kerugian besar.

"Kami meminta agar proyek yang belum berkontrak diberikan ruang untuk penyesuaian harga, agar pelaku usaha tidak terbebani biaya yang tidak sesuai dengan kondisi riil,” katanya.

Selain persoalan kenaikan biaya, Gapensi juga menyoroti skema pengadaan proyek pemerintah yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada kontraktor nasional. Praktik swakelola dalam skala besar, menurut mereka, berpotensi mengurangi peluang usaha bagi pelaku konstruksi swasta.

Gapensi mendorong agar proyek-proyek konstruksi ditenderkan secara terbuka dan memberikan ruang lebih besar bagi keterlibatan swasta nasional, tidak hanya didominasi oleh BUMN. Hal ini penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem industri konstruksi yang sehat dan kompetitif.

“Jika tidak ada langkah konkret, pelaku usaha konstruksi, terutama skala kecil dan menengah, berpotensi kesulitan bertahan bahkan menghentikan operasionalnya,” ujar La Ode.

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diguyur Rp10 Juta oleh Dedi Mulyadi Imbas Bayi Nyaris Tertukar di RSHS Bandung, Nina Saleha akan Gunakan untuk Akikah
• 16 jam lalutvonenews.com
thumb
Silvio Baldini Ditunjuk Jadi Pelatih Interim Italia usai Azzuri Gagal ke Piala Dunia 2026
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
ASN Pemprov Sumbar Mulai Terapkan WFH, 12 Intansi Tetap Masuk Kantor
• 20 jam lalubisnis.com
thumb
Hujan Disertai Angin Kencang, Kios Pedagang di Pangkalpinang Roboh
• 16 jam lalutvrinews.com
thumb
Kebijakan WFH BGN Berlaku Terbatas, Pegawai Layanan Publik Tetap WFO demi Program MBG
• 3 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.