FAJAR, YOGYAKARTA — Kemenangan dramatis kembali menjadi cerita yang melekat pada perjalanan PSM Makassar di pentas BRI Super League musim 2025/2026.
Bertandang ke markas PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, Jumat (10/4), Juku Eja tidak hanya membawa pulang tiga poin, tetapi juga menunjukkan karakter yang kian matang: sabar dalam tekanan, tajam di momen krusial, dan percaya hingga detik terakhir.
Laga ini sejak awal memang tidak menjanjikan jalan mudah bagi tim tamu. PSIM tampil disiplin di hadapan pendukungnya sendiri. Mereka mampu mengontrol ritme permainan, meski tidak menciptakan banyak peluang bersih. Babak pertama berjalan dalam tempo sedang, dengan kedua tim saling membaca dan berhati-hati.
Skor 0-0 bertahan hingga turun minum, mencerminkan duel yang lebih banyak diwarnai taktik ketimbang agresivitas.
Memasuki babak kedua, atmosfer berubah. PSIM menemukan celah dan memanfaatkannya dengan efektif. Pada menit ke-54, Deri Corfe sukses memecah kebuntuan. Gol tersebut bukan hanya mengubah papan skor, tetapi juga mengangkat kepercayaan diri tuan rumah. Stadion bergemuruh, tekanan meningkat, dan untuk sesaat, PSM berada dalam situasi yang tidak menguntungkan.
Namun, di titik itulah mentalitas tim tamu diuji. PSM tidak panik. Mereka justru merespons dengan pendekatan yang lebih berani. Intensitas serangan ditingkatkan, garis permainan dinaikkan, dan keberanian untuk mengambil risiko mulai terlihat. Ini bukan sekadar perubahan taktik, melainkan cerminan dari keyakinan kolektif bahwa pertandingan belum selesai.
Perlahan, tekanan yang dibangun PSM mulai membuahkan hasil. Pada menit ke-79, Luka Cumic menjadi aktor utama kebangkitan. Golnya menyamakan kedudukan sekaligus memecah kebuntuan psikologis tim. Dari posisi tertinggal, PSM kembali menemukan napas permainan.
Setelah gol tersebut, arah pertandingan berubah drastis. Jika sebelumnya PSIM tampak lebih tenang, kini justru mereka yang mulai kehilangan konsentrasi. PSM, sebaliknya, semakin percaya diri. Serangan demi serangan dilancarkan, memanfaatkan celah yang mulai terbuka di lini pertahanan tuan rumah.
Dan seperti banyak kisah sepak bola yang ditentukan di ujung waktu, momen penentu datang di masa tambahan. Dusan Lagator muncul sebagai pembeda. Sepakannya tak mampu dibendung kiper PSIM, memastikan kemenangan 2-1 bagi PSM. Gol tersebut bukan sekadar angka di papan skor, tetapi simbol dari kegigihan dan keyakinan yang dijaga hingga detik terakhir.
Di balik kemenangan itu, ada suara yang mencerminkan kerendahan hati sekaligus spiritualitas tim. Asisten pelatih Ahmad Amiruddin menegaskan bahwa hasil yang diraih tidak lepas dari faktor non-teknis yang ia yakini sangat menentukan.
“Kemenangan ini kita tidak bisa lepas atas izin Allah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan formal. Dalam konteks sepak bola Indonesia—yang kerap memadukan kerja keras dengan nilai-nilai spiritual—kalimat itu mencerminkan cara tim memaknai perjuangan mereka.
Bahwa di balik strategi, latihan, dan taktik, ada keyakinan yang menjadi fondasi mental.
Amiruddin juga menyoroti satu aspek penting lainnya: semangat juang. Dalam pertandingan seperti ini, ketika tim tertinggal dan tekanan meningkat, yang dibutuhkan bukan hanya kualitas individu, tetapi juga ketahanan kolektif. PSM menunjukkan itu—tidak menyerah, tetap fokus, dan menunggu momen yang tepat untuk bangkit.
Hal serupa juga disampaikan oleh Cumic. Baginya, gol penyama kedudukan bukan hanya kontribusi personal, tetapi momentum yang mengubah arah pertandingan. Ia mengakui bahwa di babak pertama timnya lebih banyak bertahan. Namun perubahan strategi di babak kedua—dengan pendekatan yang lebih ofensif—membuka jalan bagi kebangkitan.
Kemenangan ini pun memiliki arti lebih luas bagi PSM. Di tengah persaingan ketat papan klasemen, tiga poin dari laga tandang seperti ini menjadi sangat berharga. Bukan hanya untuk menjaga posisi, tetapi juga membangun konsistensi—sesuatu yang kerap menjadi pembeda antara tim yang sekadar kompetitif dan tim yang benar-benar siap bersaing di level tertinggi.
Sebaliknya, bagi PSIM, hasil ini menjadi pelajaran pahit. Mereka sempat berada di atas angin, tetapi gagal menjaga keunggulan hingga akhir. Dalam kompetisi panjang, detail-detail kecil seperti konsentrasi di menit akhir sering kali menentukan nasib sebuah tim.
Pada akhirnya, laga ini menyisakan lebih dari sekadar skor 2-1. Ia menghadirkan cerita tentang ketekunan, tentang keberanian mengubah keadaan, dan tentang keyakinan yang melampaui batas teknis permainan.
Di Bantul sore itu, PSM Makassar tidak hanya menang—mereka menunjukkan bagaimana sebuah tim bertumbuh, tidak hanya secara taktik, tetapi juga secara mental dan keyakinan.





