Pasar Saham AS Kaget Inflasi Cetak Rekor Tertinggi, Wall Street Ditutup Bervariasi

metrotvnews.com
6 jam lalu
Cover Berita

New York: Saham-saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street berakhir beragam pada penutupan perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena investor mencerna data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan di tengah ketidakpastian geopolitik yang berkelanjutan.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 11 April 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,56 persen menjadi 47.916,57. Indeks S&P 500 turun 0,11 persen menjadi 6.816,89. Indeks Nasdaq Composite naik 0,35 persen menjadi 22.902,89.

Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 ditutup lebih rendah. Sektor barang konsumsi pokok dan perawatan kesehatan memimpin penurunan, masing-masing turun 1,43 persen dan 1,33 persen. Sektor teknologi dan material menjadi sektor dengan kinerja terbaik, naik 0,76 persen dan 0,64 persen.
  Baca juga: Harga BBM Meroket, Amerika Cetak Inflasi Tertinggi

(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
  Inflasi AS melonjak 3,3%
Indeks harga konsumen (CPI) AS melonjak 3,3 persen pada Maret 2026 dibandingkan tahun sebelumnya, yang mewakili peningkatan hampir satu poin persentase penuh dari laju tahunan Februari. Indeks energi melonjak 10,9 persen, didorong oleh lonjakan harga bensin sebesar 21,2 persen, yang menyumbang hampir tiga perempat dari peningkatan bulanan di semua item.

Sementara CPI inti, yang tidak termasuk komponen makanan dan energi yang fluktuatif untuk mengukur inflasi, meningkat lebih moderat, naik 0,2 persen secara bulanan (mtm) dan 2,6 persen secara tahunan (yoy).

Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Kush Desai menyatakan bahwa perekonomian tetap berada pada jalur yang solid, sambil mengakui harga makanan dan bensin telah naik.

Direktur Dewan Ekonomi Nasional Kevin Hassett menggambarkan situasi saat ini sebagai gangguan energi sementara, menambahkan dampak ekonomi dari konflik Iran adalah gangguan sementara yang akan segera hilang.

Namun, Kathy Bostjancic, kepala ekonom di Nationwide, berpendapat meskipun kesepakatan jangka panjang untuk mengakhiri perang tercapai dan Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya, akan membutuhkan waktu berbulan-bulan bagi pasokan minyak, bensin, solar, dan komoditas lainnya untuk kembali ke tingkat sebelum perang dan dengan demikian harga akan kembali stabil ke tingkat sebelum konflik.
  Daya beli konsumen AS ambruk
Sementara itu, indeks sentimen konsumen awal Universitas Michigan untuk bulan April turun tajam ke rekor terendah 47,6, turun dari 53,3 pada Maret dan jauh di bawah ekspektasi analis sebesar 52,0, yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran publik atas dampak perang Iran terhadap keuangan rumah tangga.

Adapun saham ketujuh raksasa teknologi "Magnificent Seven" sebagian besar turun pada hari itu. Nvidia menonjol sebagai yang berkinerja paling baik, naik 2,57 persen. Para investor kini mengalihkan perhatian mereka ke pembicaraan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cak Imin Ingin PKB Jadi Kekuatan Solutif Pemerintahan Prabowo
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Integritas Anggaran Negara: Ujian yang Tak Pernah Usai
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Saiful Mujani cs Kembali Dilaporkan Buntut Seruan Gulingkan Prabowo, Kini ke Bareskrim Polri!
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Pembacok Kakak Kandung di Cakung Residivis, Terancam 5 Tahun Penjara
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Kapan Gaji Ke-13 2026 Cair? Simak Bocoran Jadwal dan Besarannya
• 53 menit lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.