Houston: Harga minyak dunia mendekati level terendah dalam sesi perdagangan yang bergejolak pada perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran tetap rapuh sementara Selat Hormuz yang penting sebagian besar tetap tertutup.
Guncangan harga minyak juga menunjukkan tanda-tanda pertama dampaknya terhadap ekonomi AS, dengan angka inflasi utama yang melonjak pada Maret.
Mengutip Investing.com, Sabtu, 11 April 2026, harga minyak Brent berjangka sebagai patokan harga minyak internasional untuk kontrak beli atau jual Juni, turun sebanyak 1,6 persen menjadi USD94,40 per barel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka sebagai standar untuk penetapan harga minyak di AS untuk masa mendatang, juga anjlok sebesar 1,8 persen menjadi USD96,13 per barel. Kedua kontrak tersebut diperkirakan akan mengalami kerugian mingguan lebih dari 13 persen.
Baca juga: Harga BBM Meroket, Amerika Cetak Inflasi Tertinggi
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Inflasi AS meroket
Inflasi energi AS mencatat kenaikan bulanan terbesar dalam lebih dari dua dekade. Dampak dari lonjakan harga minyak menjadi sorotan setelah dirilisnya laporan indeks harga konsumen (CPI) periode Maret 2026.
Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, CPI utama naik 0,9 persen secara bulanan (mtm), sesuai dengan konsensus. Secara tahunan (yoy), CPI utama naik 3,3 persen, lebih rendah dari perkiraan kenaikan sebesar 3,4 persen.
Seperti yang diperkirakan, angka-angka utama mencerminkan lonjakan besar dalam harga-harga terkait energi, dengan indeks tersebut melonjak 10,9 persen (mtm), peningkatan terbesar sejak September 2005. Indeks harga bensin meroket hingga 21,2 persen (mtm)
"Indeks energi sekarang berada pada titik tertinggi sejak 2005, dan karena pasokan minyak yang terbatas sehubungan dengan penutupan Selat Hormuz yang berulang, terus membuat penyedia energi kesulitan, konsumen tidak diragukan lagi akan menghadapi tekanan yang lebih ketat di SPBU. Semakin lama konflik ini berkecamuk, semakin dalam spiral inflasi yang akan dialami AS," jelas Yerbol Orynbayev, mantan gubernur Bank Dunia untuk Kazakhstan.




