PEMERINTAH menyiapkan 25.000 unit motor untuk petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), sementara pada saat yang sama, sekitar 13.000 proposal penelitian dosen didanai melalui skema BIMA.
Dua angka ini memantik pertanyaan publik mengenai bagaimana kampus dapat menghadirkan dampak nyata jika dukungan terhadap riset masih terbatas dibandingkan fasilitasi sektor operasional.
Tagline kampus berdampak menuntut bukti karena dampak lahir dari riset yang kuat, pengabdian yang terukur, serta inovasi yang diterapkan.
Universitas tidak hanya mencetak lulusan, tetapi ia memproduksi pengetahuan, merumuskan solusi berbasis data, serta menguji kebijakan dengan pendekatan ilmiah.
Motor bagi petugas SPPG tentu memiliki urgensi administratif karena pelayanan publik memerlukan mobilitas dan distribusi program membutuhkan kecepatan.
Dalam perspektif manajemen publik, dukungan sarana adalah bagian dari peningkatan kinerja birokrasi, mengingat negara tidak bisa berjalan tanpa infrastruktur operasional.
Namun riset adalah infrastruktur intelektual. Sebab tanpa penelitian yang memadai, kebijakan hanya bersifat reaktif.
Baca juga: Miskalkulasi Bank Dunia dan Kedaulatan Ekonomi Nasional
Teori evidence based policy menegaskan bahwa keputusan publik yang efektif harus bertumpu pada hasil kajian ilmiah, di mana peran dosen menjadi sangat strategis.
Mereka meneliti kemiskinan, ketahanan pangan, hukum, kesehatan, pendidikan, dan tata kelola untuk menjawab tantangan zaman.
Jika hanya 13.000 proposal yang didanai dari seluruh perguruan tinggi, pertanyaannya bukan sekadar jumlah, melainkan berapa total proposal yang masuk sebenarnya.
Berapa banyak ide yang gugur bukan karena lemah tetapi karena keterbatasan kuota, serta berapa potensi inovasi yang kini harus tertunda.
Kampus berdampak tidak lahir dari slogan, melainkan dari ekosistem riset yang sehat, pendanaan yang kompetitif, serta skema yang berkelanjutan.
Insentif publikasi yang rasional serta kolaborasi lintas disiplin dan sektor sangat diperlukan agar dosen tidak sibuk mengejar administrasi, melainkan substansi.
Perbandingan 25.000 unit motor dan 13.000 proposal riset tidak boleh dibaca sebagai konflik antar sektor, melainkan soal arah prioritas pembangunan.
Apakah negara ingin memperkuat daya dorong jangka panjang melalui inovasi atau lebih fokus pada penguatan instrumen operasional jangka pendek?





