Lebaran, Label Sosial, dan Luka yang Diwariskan

harianfajar
7 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Ipa Bahya

Magister UGM

Dalam film Tunggu Aku Sukses Nanti, lebaran sering dipromosikan sebagai ruang rekonsiliasi: momen kembali, memaafkan, dan menghangatkan relasi keluarga. Namun realitas tidak selalu seindah narasi normatif tersebut. Dalam banyak kasus—seperti tergambar dalam kisah Arga—Lebaran justru menjadi panggung produksi luka sosial yang berulang. Di balik hidangan dan tawa, terselip praktik labeling dan stigma yang bekerja halus, tetapi menghancurkan.

Dalam perspektif sosiologi, khususnya teori labeling, identitas seseorang tidak terbentuk secara alamiah, melainkan melalui interaksi sosial yang sarat penilaian. Seseorang menjadi “gagal”, “kurang sukses”, atau “tidak membanggakan” bukan semata karena kondisi objektifnya, tetapi karena ia terus-menerus didefinisikan demikian oleh lingkungannya. Label itu, ketika diulang dan dinormalisasi, berubah menjadi kebenaran sosial yang sulit dilawan.

Arga adalah contoh konkret bagaimana label bekerja. Ia tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk menjadi individu yang sedang berproses. Setiap Lebaran, identitasnya direduksi menjadi satu hal: belum sukses. Pertanyaan-pertanyaan yang tampak sederhana—tentang pekerjaan, penghasilan, atau masa depan—sebenarnya bukan bentuk kepedulian, melainkan mekanisme kontrol sosial. Ia diukur, dibandingkan, dan secara implisit diposisikan lebih rendah.

Lebih problematis lagi, labeling ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan stigma. Dalam kerangka sosiologis, stigma adalah tanda sosial yang mendiskreditkan seseorang, membuatnya dianggap kurang bernilai. Dalam kasus Arga, latar belakang ekonomi keluarga menjadi stigma yang melekat. Ia bukan hanya dinilai sebagai individu yang “belum berhasil”, tetapi juga sebagai representasi dari keluarga yang “kurang mampu”. Akibatnya, perlakuan terhadapnya pun berbeda—lebih rendah, lebih merendahkan, dan sering kali tidak disadari sebagai bentuk ketidakadilan.

Yang membuat situasi ini semakin tajam adalah fakta bahwa semua itu terjadi dalam institusi keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi arena reproduksi ketimpangan sosial. Relasi yang mestinya dilandasi kasih sayang digantikan oleh hierarki status. Lebaran, yang idealnya menjadi simbol kesetaraan, malah menjadi ajang mempertontonkan siapa yang paling berhasil dan siapa yang tertinggal.

Dampak dari proses ini tidak berhenti pada level interaksi. Label yang terus-menerus dilekatkan berpotensi diinternalisasi. Individu mulai melihat dirinya melalui kacamata orang lain. Rasa tidak cukup, tidak layak, dan tidak berharga perlahan mengendap. Inilah yang dalam sosiologi disebut sebagai secondary labeling—ketika cap sosial berubah menjadi identitas diri. Pada titik ini, luka tidak lagi datang dari luar, tetapi hidup di dalam diri individu itu sendiri.

Ironisnya, semua ini sering dibungkus dengan dalih “motivasi”. Kalimat seperti “ayo semangat” atau “jangan kalah sama yang lain” terdengar positif, tetapi dalam konteks relasi yang timpang, ia justru menjadi bentuk kekerasan simbolik. Tidak ada empati, hanya tekanan yang dipoles menjadi nasihat. Tidak ada penerimaan, hanya tuntutan untuk memenuhi standar yang tidak pernah disepakati bersama.

Melalui kisah Arga, kita dihadapkan pada pertanyaan yang lebih besar: mengapa keluarga—yang seharusnya menjadi tempat paling aman—justru menjadi sumber luka yang paling dalam? Jawabannya terletak pada cara kita memahami kesuksesan. Ketika kesuksesan direduksi menjadi materi dan status, maka relasi keluarga pun ikut terjebak dalam logika kompetisi. Setiap pertemuan bukan lagi tentang kebersamaan, melainkan evaluasi diam-diam atas capaian hidup masing-masing.

Di sinilah kritik utama perlu diarahkan. Bukan pada individu seperti Arga, tetapi pada struktur nilai yang melanggengkan praktik labeling dan stigma. Selama keluarga masih menjadikan perbandingan sebagai budaya, selama kesuksesan hanya diukur dari pencapaian ekonomi, maka Lebaran akan terus menjadi ruang yang ambigu: hangat bagi sebagian, tetapi menyakitkan bagi yang lain.

Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar bagaimana seseorang menjadi sukses, tetapi bagaimana ia diperlakukan saat belum sampai ke sana. Sebab dalam banyak kasus, luka terbesar bukan berasal dari kegagalan itu sendiri, melainkan dari cara orang-orang terdekat memberi makna atas kegagalan tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
STNK Hilang? Simak Prosedur, Syarat, dan Biaya Pengurusannya di Samsat
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
Video Ceramah Jusuf Kalla Dipotong dan Diviralkan, Jubir Tegaskan Bukan Menistakan Agama
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Hasil Super League: Arema Bungkam Persita 1-0 lewat Free Kick Gustavo Franca
• 20 jam lalumedcom.id
thumb
Jembatan Penghubung 2 Desa di Kabupaten Serang Kondisinya Memprihatinkan, Lihat Nih!
• 22 jam lalujpnn.com
thumb
Update KPK OTT Gatut Sunu Wibowo: Siapa Saja Pejabat Pemkab Tulungagung yang Ikut Terseret?
• 13 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.