JAKARTA, KOMPAS.com – Kepercayaan warga terhadap aplikasi Jakarta Kini (JAKI) mulai goyah setelah muncul dugaan manipulasi dalam penanganan laporan aduan.
Sejumlah kasus yang melibatkan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Kalisari, Jakarta Timur, serta petugas Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, memicu kekhawatiran publik terhadap validitas laporan di aplikasi tersebut.
Dalam salah satu kasus, petugas PPSU diduga memanipulasi foto laporan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Polemik Foto AI di JAKI: Lurah Kalisari Dinonaktifkan, Petugas PPSU Kena SP
Bahkan, petugas tersebut disebut berulang kali merekayasa laporan sebelum akhirnya dikenai sanksi berupa Surat Peringatan (SP 1).
Sementara itu, petugas Dishub Jakarta Selatan diduga memanipulasi foto dengan mengubah timestamp atau penanda waktu dalam laporan di Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan.
Petugas menggunakan laporan yang sama untuk laporan yang berbeda seolah-olah keluhan sudah ditangani atau selesai.
Threads/glensaimima Unggahan viral di media sosial foto laporan petugas Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang dipalsukan dengan manipulasi tanda waktu (timestamp).
Di tengah polemik tersebut, sejumlah warga mulai mempertanyakan keandalan JAKI sebagai kanal pengaduan publik.
Baca juga: Belum Reda Kasus PPSU, Dishub DKI Juga Diduga Manipulasi Foto Laporan JAKI
Atar (18), warga Kampung Dukuh, Kramat Jati, mengaku sebelumnya aktif menggunakan aplikasi tersebut untuk melaporkan berbagai persoalan lingkungan.
Namun, kini muncul keraguan bahwa persoalannya benar-benar diselesaikan usai melapor ke JAKI.
"Laporan mah beberapa kali, kayak ada lampu mati, terus yang lawan arah aja, tapi kalau sekarang sih ragu ya setelah ada kemarin (manipulasi)," ungkap Atar saat ditemui di kawasan Cakung, Jumat (10/4/2026).
Hal serupa juga dirasakan warga lain, meski sebagian tetap memilih menggunakan JAKI.
Indra (34), warga Duren Sawit, mengaku tetap akan melaporkan keluhan melalui aplikasi tersebut.
"Ya, tetap lapor saja, pikiran saya kalau karena kemarin (kasus AI) jadi enggak mau melapor, ya (hal) yang jelek (jadi) enggak ada pembenahan," tutur Indra.
Puji (40), warga Pondok Kelapa, juga menyampaikan hal serupa. Ia berharap ada perbaikan sistem setelah kasus tersebut mencuat.