Para pemimpin senior dari Amerika Serikat (AS) dan Iran berkumpul di Ibu Kota Pakistan, Islamabad, akhir pekan ini. Mereka akan memulai negosiasi yang bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah berkecamuk selama enam minggu.
Reuters pada Sabtu (11/4) melansir, delegasi AS dipimpin langsung Wakil Presiden JD Vance, yang didampingi oleh utusan khusus Presiden Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantu Trump, Jared Kushner. Sementara itu, pihak Iran mengirimkan delegasi tingkat tinggi yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Pertemuan ini menandai dialog tatap muka paling formal dan berada pada level tertinggi antara kedua negara sejak 2015.
Akan tetapi, prospek dari perundingan ini masih dibayangi keraguan. Qalibaf menegaskan, pengalaman masa lalu dalam bernegosiasi dengan Washington telah menyebabkan krisis kepercayaan yang mendalam. Ia menyatakan, meskipun Iran memiliki niat baik, mereka tidak menaruh kepercayaan pada Amerika.
"Pengalaman kami dalam bernegosiasi dengan Amerika selalu berakhir dengan kegagalan dan janji-janji yang diingkari," ujar Qalibaf.
Iran berkeras bahwa pembicaraan tidak akan dimulai secara substansial sebelum adanya komitmen nyata dari Washington terkait gencatan senjata di Lebanon, serta kejelasan mengenai pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.
Seperti diketahui, Lebanon terus dihantam serangan brutal militer zionis hingga menyebabkan berjatuhannya korban jiwa di kalangan sipil, sejak Hizbullah mulai masuk dalam pusaran konflik Iran melawan AS-Israel.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump memberikan respons tajam melalui media sosial dengan menyatakan bahwa Iran sebenarnya tidak memiliki posisi tawar yang kuat selain melakukan tekanan jangka pendek melalui blokade jalur perairan internasional.
Situasi di Islamabad sendiri berada dalam pengamanan superketat dengan ribuan personel militer berjaga di jalan-jalan kota. "(Perundingan ini) akan menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan," kata Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Meskipun Trump telah mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu yang menghentikan serangan udara ke Iran, blokade di Selat Hormuz masih belum dibuka sepenuhnya. Penutupan jalur vital ini telah memicu krisis energi global yang sangat parah dan inflasi tinggi di berbagai belahan dunia.
Hingga saat ini, tuntutan kedua belah pihak masih saling berbenturan, terutama mengenai isu Lebanon. Israel dan AS berkeras bahwa operasi militer di Lebanon bukan merupakan bagian dari kesepakatan damai dengan Iran. Sementara Teheran tetap menjadikannya syarat mutlak.
Di tengah ketidakpastian tersebut, hasil dari meja perundingan di Islamabad akan menjadi kunci apakah stabilitas global dapat segera pulih atau justru dunia harus menghadapi eskalasi konflik yang jauh lebih besar dan menghancurkan.




