Artemis II Tiba di Bumi, Pendaratan Kembali Manusia di Bulan Ada di Depan Mata

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

SAN DIEGO, SABTU-Kapsul Orion yang membawa empat antariksawan memutari Bulan tiba kembali di Bumi. Kapsul yang dinamai Integrity itu mendarat di Samudra Pasifik di lepas pantai San Diego, Amerika Serikat, Jumat (10/4/2026) petang waktu setempat atau Sabtu (11/4) pukul 07.07 WIB. Cita-cita mendaratkan kembali manusia di Bulan secara berkelanjutan ada di depan mata.

Kepulangan Orion dari Bulan berlangsung setelah kapsul itu terbang melintas di dekat sisi belakang Bulan pada 6 April 2026 lalu. Perjalanan ini tak hanya memecahkan sejumlah rekor penerbangan luar angkasa dan pengamatan sisi belakang Bulan secara langsung, tetapi juga untuk memetakan jalur Integrity kembali ke Bumi.

Sejak semula, perjalanan Artemis II menuju Bulan ini menempuh lintasan yang unik, yaitu lintasan ‘bebas pulang’. Artinya, jalur penerbangan Orion dari orbit rendah Bumi ke Bulan maupun perjalanan dari Bulan ke Bumi dilakukan hanya dengan mengandalkan gravitasi, tanpa memerlukan pembakaran mesin. Selain hemat bahan bakar, teknik ini juga mengurangi risiko selama penerbangan berlangsung.

Baca JugaArtemis II Siap Kembali ke Bumi

Model lintasan ‘bebas pulang’ itu membuat perjalanan kembali Integrity selama beberapa hari terakhir tak menimbulkan banyak drama. Drama sesungguhnya terjadi di hari terakhir misi, hari kesepuluh, saat Orion harus memasuki atmosfer Bumi lagi. Fase ini mengandung potensi bahaya besar karena mempertaruhkan keselamatan antariksawan di dalamnya.

Orion masuk kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan luar biasa, sekitar 38.600 kilometer (km) per detik. Kecepatan tinggi itu menghasilkan gesekan dengan atmosfer Bumi dan menghasilkan panas sehingga suhu di sekitar Orion mencapai 2.800 derajat Celsius.

Untuk menghalau panas setinggi itu, Orion memiliki perisai panas dan menjadi perisai panas terbesar yang pernah digunakan dalam misi berawak, yaitu memiliki lebar lima meter.

Namun dalam penerbangan tanpa awak dalam misi Artemis I pada Desember 2022, perisai panas itu mengalami kerusakaan saat hendak memasuki atmosfer Bumi.

Masalah itu tidak diselesaikan dengan memodifikasi perisai panas yang digunakan, tapi dengan mengubah sudut masuknya Orion dalam misi Artemis II ke atmosfer Bumi dengan sudut lebih curam sehingga membatasi paparan panas ekstrem pada perisai panas.

Kepercayaan diri itu terbukti benar karena Integrity berhasil melewati tantangan tersebut. Orion memasuki atmosfer Bumi di atas Samudra Pasifik di sebelah tenggara Hawaii, AS, pada Jumat (10/4) petang waktu setempat atau Sabtu (11/4) pukul 06.53 WIB.

Hanya 10 menit kemudian, parasut penstabil wahana telah mengembang yang diikuti oleh mengembangnya tiga parasut utama yang lebih besar. Ketiga parasut besar itulah yang membawa Orion hingga sampai ke permukaan laut.

Tiupan angin turut memperlambat kecepatan penurunan Integrity. Akibatnya, Orion menghantam permukaan air dengan kecepatan 31 km per jam atau 8,6 m per detik. Orion pun mendarat di Samudra Pasifik, sekitar 100 km dari lepas pantai San Diego atau sekitar 3.200 km dari tempat Integrity masuk ke atmosfer Bumi untuk pertama kali.

“Pendaratan yang sempurna untuk Integrity dan keempat astronotnya. Pada dasarnya, ini adalah misi yang sesuai buku panduan,” kata juru bicara NASA Rob Navis tepat setelah Orion mendarat di laut seperti dikutip dari Space.

Baca JugaMengapa Manusia Kembali ke Bulan?

Selanjutnya, kapal penyelamat USS John Murtha dari Pangkalan Angkatan Laut San Diego yang menanti di sekitar lokasi pendaratan langsung menyambut kedatangan Orion dan awaknya. Antariksawan segera diterbangkan ke darat untuk menjalani pemeriksaan medis dan dari pemeriksaan awal, semua antariksawan dalam kondisi baik.  

Orion juga menjadi wahana pertama yang mengirimkan toilet ke luar angkasa.

Pertama

Misi Artemis II diluncurkan pada 1 April 2026 dengan tujuan utama untuk menguji kapsul berawak sembari terbang melintas di dekat permukaan Bulan. Misi ini membawa empat antariksawan yang terdiri atas tiga astronot Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA), yaitu Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch serta seorang astronot Badan Antariksa Kanada (CSA) Jeremy Hansen.

Ini adalah misi manusia ke Bulan pertama setelah pendaratan terakhir manusia di Bulan dalam misi Apollo 17 tahun 1972. Keempat antariksawan itu juga menjadi manusia pertama yang menyaksikan sisi belakang Bulan secara langsung setelah awak Apollo 8 melihat dan memotretnya pada tahun 1968.

Tak hanya itu, mereka juga mencatatkan diri sebagai manusia terjauh yang meninggalkan Bumi pada jarak 406.771 kilometer (km). Jarak terjauh manusia sebelumnya dicapai oleh misi Apollo 13 pada 1970 yang mencapai jarak 400.171 km dari Bumi.

Namun, jarak ini tercapai bukan karena direncanakan, tapi akibat adanya kecelakaan. Misi itu seharusnya mengorbit dan mendarat di Bulan tapi gagal akibat terjadi ledakan pada wahana di tengah perjalanan. Untuk bertahan hidup, astronot terpaksa bermanuver yang membuat mereka ‘terlempar’ ke jarak yang jauh tersebut.

Misi Artemis II bukan hanya menjadi misi penerbangan yang serba pertama, tetapi awak penerbangannya pun sama. Glover adalah orang kulit hitam pertama yang ke Bulan, sedangkan Koch adalah perempuan pertama. Sementara Hansen adalah orang non-AS pertama yang ke Bulan.

Pelibatan mereka dilakukan untuk menciptakan misi ke Bulan yang lebih inklusif. Hal ini mengingat 12 orang pertama yang menginjakkan kaki di Bulan pada 1969-1972, semuanya adalah laki-laki AS dan berkulit putih.

Selain itu, yang membedakan dengan misi Apollo adalah kapasitas kapsul yang digunakan. Kapsul Apollo hanya bisa membawa tiga astronot, sementara Orion dalam misi Artemis II ini bisa membawa empat antariksawan.

Orion juga menjadi wahana pertama yang mengirimkan toilet ke luar angkasa. Meski toilet ini mengalami beberapa masalah, namun merupakan lompatan besar terkait higienitas di luar angkasa. Pada misi Apollo, astronot buang air besar hanya melalui kantung plastik.

Baca JugaSejarah Baru Manusia di Bulan Tercipta

Meski tujuan utama Artemis II adalah untuk menguji kapsul Orion dalam penerbangan berawak yang akan digunakan dalam misi-misi berikutnya, tetapi selama terbang melintas di sisi belakang Bulan, antariksawan di dalamnya tetap dibebani pekerjaan ilmiah.

Antariksawan diwajibkan mengamati kondisi geologi dan variasi warna permukaan Bulan guna mendeteksi komposisi kimia di tanah Bulan. Mereka juga menyaksikan gerhana Matahari dari luar angkasa, serta uji kesehatan manusia selama di orbit Bulan. Setelah itu, mereka pun langsung kembali ke Bumi dan membutuhkan waktu sekitar empat hari.

Untuk tidak mengulangi ’kegagalan’ Apollo yang menjadikan pendaratan manusia di Bulan hanya sebagai perlombaan kedigdayaan negara-negara di era perang dingin, maka perjalanan manusia ke Bulan berikutnya harus berkelanjutan.

Masa depan

Artemis II adalah peristiwa besar karena mendorong manusia berani menjelajahi kembali antariksa, lebih jauh dari orbit rendah Bumi seperti yang dilakukan selama beberapa dekade terakhir.

Untuk tidak mengulangi ’kegagalan’ Apollo yang menjadikan pendaratan manusia di Bulan hanya sebagai perlombaan kedigdayaan negara-negara di era perang dingin, maka perjalanan manusia ke Bulan berikutnya harus berkelanjutan.

Misi itulah yang ingin dibawa NASA melalui program Artemis. Untuk itu, NASA berencana membangun pangkalan di dekat kutub selatan Bulan pada awal dekade 2030-an. Kutub selatan Bulan ini diprediksi kaya akan es cair yang dapat digunakan untuk mendukung kehidupan manusia di sana, sekaligus bisa diubah menjadi bahan bakar roket.

Pangkalan itu akan menjadi tempat dimulainya kolonisasi manusia di Bulan dan menjadi fasilitas transit bagi perjalanan manusia menuju planet Mars. Misi pendaratan manusia di Mars itu direncanakan NASA bisa diwujudkan di akhir dekade 2030 atau awal dekade 2040.

Untuk mewujudkan mimpi besar itu, setelah misi Artemis II ini selesai, maka NASA akan segera menjalankan misi Artemis III untuk mengirimkan antariksawan ke orbit Bumi pada pertengahan tahun 2027.

Di orbit Bumi itu, NASA akan menguji prosedur penyambungan Orion dengan satu atau dua wahana pendarat di Bulan yang telah dipesan NASA, yaitu Starship milik SpaceX dan Blue Moon milik Blue Origin.

Baca JugaImpian Menaklukan Planet Mars

Setelah itu, akan disambung dengan misi Artemis IV yang akan mendaratkan kembali manusia di Bulan pada akhir 2028. Banyak pihak menilai tenggat waktu itu terlalu agresif, tapi NASA bersikukuh mewujudkannya agar memenangkan perlombaan antariksa dan tak terkejar China yang juga berencana mendaratkan taikonotnya di Bulan pada 2030.

Administrator NASA Jared Isaacman mengatakan bahwa misi Artemis II menginisiasi banyak hal menarik lain. “Kita kembali ke Bulan dan membangun kehadiran manusia lebih langgeng di sana untuk belajar agar bisa melakukan misi yang lebih besar di masa depan, melampaui Bulan,” tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Angkutan Lebaran 2026 Sukses, Kolaborasi Jadi Kunci
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Berikut 4 Lokasi SIM Keliling di Jakarta Hari Ini
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Catatan Super League Pekan Ke-26: Nadeo Gemilang, Ramon Tajam, Moussa Garang, dan Strategi Jitu Fabio Lefundes
• 17 jam laluharianfajar
thumb
Saat Pakaian jadi Objek Ejekan: Krisis Empati di Ruang Digital
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Lagi, Ratusan Dapur SPPG di Wilayah II dan III Disuspend
• 6 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.