Setelah Yuran Fernandes dan Victor Luiz, Akankah Manajemen PSM Makassar Juga Pertahankan Dusan Lagator?

harianfajar
6 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Di tengah upaya membangun kembali fondasi tim yang kompetitif, PSM Makassar kini dihadapkan pada satu pertanyaan penting: apakah Dusan Lagator layak menjadi bagian dari proyek jangka panjang mereka?

Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Dalam beberapa pekan terakhir, nama Lagator perlahan bergerak dari pinggiran menjadi pusat perhatian. 

Puncaknya terjadi saat ia mencetak gol penentu kemenangan dramatis 2-1 atas PSIM Yogyakarta di pekan ke-27 BRI Super League. Gol di menit ke-99 itu bukan sekadar angka—ia adalah simbol dari perubahan peran, kepercayaan, dan momentum.

Jika melihat arah kebijakan manajemen, sinyal stabilitas sebenarnya sudah mulai terlihat. Sebelumnya, dua nama penting di lini belakang, Yuran Fernandes dan Victor Luiz, dikabarkan telah lebih dulu diamankan kontraknya. Keputusan ini menunjukkan bahwa PSM ingin menjaga kerangka utama tim, terutama di sektor pertahanan yang menjadi identitas mereka musim ini.

Dalam konteks itu, mempertahankan Lagator bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan logis.

Sepak bola modern menuntut lebih dari sekadar bek yang solid dalam bertahan. Mereka harus mampu menjadi bagian dari skema menyerang, membaca ruang, dan hadir di momen krusial. PSM, di bawah arahan Bernardo Tavares, tampaknya memahami betul arah perkembangan ini.

Selama ini, peran tersebut sudah lebih dulu diperlihatkan oleh duet Yuran Fernandes dan Aloisio Neto. Keduanya kerap menjadi ancaman dalam situasi bola mati, menghadirkan dimensi tambahan dalam serangan. 

Kini, kehadiran Lagator menambah lapisan baru—membuat lini belakang PSM tidak hanya kokoh, tetapi juga produktif.

Golnya ke gawang PSIM mempertegas hal itu. Ia datang bukan sebagai striker dadakan, tetapi sebagai bagian dari sistem yang memberi ruang bagi bek untuk berkontribusi di fase ofensif. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari pola permainan yang terbangun.

Lebih jauh, mempertahankan Lagator juga berarti menjaga kontinuitas. Dalam kompetisi panjang seperti Super League, konsistensi skuad sering kali menjadi pembeda antara tim yang sekadar kompetitif dan tim yang benar-benar mampu bersaing di papan atas.

Pergantian pemain yang terlalu sering justru berisiko merusak chemistry yang sudah terbentuk.

PSM saat ini mulai menunjukkan tanda-tanda menemukan identitasnya kembali: disiplin dalam bertahan, efektif dalam menyerang, dan berbahaya dalam situasi bola mati. Struktur ini tidak muncul secara instan. Ia dibangun melalui proses, kepercayaan, dan kesinambungan.

Di sisi lain, faktor usia dan potensi juga menjadi pertimbangan penting. Lagator, yang sebelumnya tidak terlalu disorot, justru menunjukkan perkembangan signifikan. Dalam banyak kasus, pemain dengan karakter seperti ini—yang tumbuh di dalam sistem—sering kali menjadi aset berharga karena memahami filosofi tim secara mendalam.

Namun tentu, keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen. Ada banyak variabel yang harus dipertimbangkan: kebutuhan tim, komposisi pemain asing, hingga aspek finansial. 

Tetapi jika parameter utamanya adalah kontribusi di lapangan dan kesesuaian dengan sistem permainan, maka argumen untuk mempertahankan Lagator menjadi cukup kuat.

Apalagi, momentum sedang berada di pihaknya. Dalam sepak bola, waktu sering kali menjadi faktor penentu. Pemain yang sedang berada dalam performa terbaik dan kepercayaan diri tinggi biasanya mampu berkembang lebih jauh jika diberi kontinuitas.

Kemenangan atas PSIM mungkin hanya satu episode dalam perjalanan panjang musim ini. Namun bagi Lagator, itu bisa menjadi titik balik—momen yang mengubah persepsi, dari pelengkap menjadi pemain kunci.

Kini, bola ada di tangan manajemen PSM. Setelah mengamankan Yuran Fernandes dan Victor Luiz, langkah berikutnya akan menunjukkan arah kebijakan klub: apakah mereka ingin mempertahankan fondasi yang sudah terbentuk, atau kembali melakukan perombakan.

Jika melihat dinamika yang ada, satu hal menjadi jelas—mempertahankan Dusan Lagator bukan hanya soal membalas satu gol penting, tetapi tentang menjaga sebuah identitas yang mulai terbentuk di tubuh PSM Makassar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Digunduli Persija 3-0, Persebaya Tetap di Urutan ke-6 Klasemen Sementara
• 1 jam lalurealita.co
thumb
Prabowo: Saya Mohon Izin Tak Lanjut Sebagai Ketum PB IPSI Lagi
• 6 jam laluliputan6.com
thumb
Polisi Tangkap Dua Terduga Pelaku Kasus Dugaan Penistaan Agama di Lebak
• 6 menit lalukompas.tv
thumb
Tingkatkan Daya Saing, Pemerintah RI Pererat Kolaborasi Industri dan Perdagangan dengan Rusia
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
RDPU: Ruang Partisipasi atau Sekadar Seremoni Demokrasi?
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.