Mantan Menlu AS Ungkap Netanyahu Berkali-kali Desak Washington Serang Iran

suarasurabaya.net
2 jam lalu
Cover Berita

John Kerry Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengungkapkan bahwa Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel, berulang kali mendorong Washington untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.

Namun, menurut John Kerry, sejumlah presiden AS sebelumnya memilih menolak opsi tersebut.

Dalam wawancara di program The Briefing bersama Jen Psaki, Kerry menyebut dirinya terlibat langsung dalam sejumlah diskusi dengan Netanyahu terkait isu tersebut.

“Dia ingin kita menyerang,” ujar Kerry, menggambarkan sikap Netanyahu dalam pertemuan-pertemuan tingkat tinggi.

Kerry menjelaskan, usulan itu bahkan disampaikan langsung kepada Barack Obama. Namun, Obama menolak gagasan tersebut, begitu pula dengan penerus Obama, yakni Joe Biden, serta presiden sebelumnya, George W. Bush.

“Presiden Obama menolak. Presiden Biden menolak. Presiden George W. Bush menolak,” kata Kerry dilansir dari Anadolu.

Ia menambahkan, hanya Donald Trump yang disebutnya menyetujui pendekatan agresif tersebut, meski tidak dijelaskan secara rinci bentuk persetujuan yang dimaksud.

Menurut Kerry, Netanyahu juga memaparkan argumen terperinci dalam beberapa kesempatan, yang ia sebut sebagai “empat poin penjelasan”. Proposal itu mencakup klaim bahwa serangan militer dapat “membunuh para pemimpin”, “memicu perubahan rezim”, serta “menghancurkan kekuatan militer” Iran.

Kerry menilai laporan terkait diskusi tersebut cukup kredibel dan mencerminkan dinamika perdebatan di tingkat elit pemerintahan.

Di tengah pernyataan tersebut, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan itu dilaporkan membuat Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran saat itu wafat, serta sejumlah pejabat tinggi politik dan militer.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menyasar wilayah Israel serta beberapa negara di kawasan, termasuk Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Teheran juga memperketat kontrol pelayaran di Selat Hormuz.

Upaya deeskalasi kemudian dilakukan oleh sejumlah negara, termasuk Pakistan, bersama Turki, China, Arab Saudi, dan Mesir. Mereka berhasil memediasi gencatan senjata selama dua pekan antara Washington dan Teheran, sekitar 40 hari sejak konflik pecah.

Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan dialog damai melalui pertemuan yang akan digelar di Islamabad, guna membahas peluang tercapainya perdamaian jangka panjang. (vve/saf/faz)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Camat Se-Makassar Teken Komitmen Basmi Sampah, Terapkan Sanitary Landfill di TPA Antang
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Sesat Pikir di Balik Hujatan Politik: Saat Logika Kalah oleh Sentimen
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Mengayuh Harapan dari Jalan Samoja, Bandung: Kisah Entus si Tukang Odong Odong
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Seskab Teddy Soroti Fenomena Inflasi Pengamat Ngoceh Tanpa Data Akurat, Sindir Siapa?
• 23 jam laluokezone.com
thumb
Starmer: Keanggotaan NATO Adalah Kepentingan Strategis AS
• 10 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.