JAKARTA, KOMPAS - Industri media merupakan industri yang sangat dinamis seiring dengan perkembang teknologi yang cepat. Karena itu, media massa harus mampu memadukan kecanggihan teknologi kecerdasan buatan dengan sentuhan manusia agar tidak tergerus zaman.
Dalam survei situasi media siber Indonesia tahun 2025 yang diteliti oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan Monash Data and Democracy Research Hub (MDDRH) Monash University Indonesia, menunjukkan modernisasi yang dilakukan media-media di Indonesia cenderung hanya dilakukan di sisi hilir seperti pada proses distribusi dan interaksi audiens.
Sementara itu proses inti seperti produksi konten, pengembangan produk, pengelolaan data, dan strategi diferensiasi di media-media di Tanah Air masih belum banyak berubah.
Co Director and associate professor di MDDRH Ika Idris menjelaskan, kondisi ini membuat kinerja media bergantung pada platform digital, dengan ukuran keberhasilan bertumpu pada metrik jangka pendek seperti views dan klik.
Hal ini mengakibatkan daya tahan bisnis media jadi rapuh dan ruang redaksi rentan terdampak tiap kali terjadi perubahan algoritma atau kebijakan platform. Selain hilang trafik (pembaca), media juga dicuri kontennya (oleh platform AI) untuk dipelajari, dan ternyata media itu mengalami kerugian langsung.
” Ketika AI sedang mengumpulkan data dari media, itu tidak menyumbang apa-apa ke trafik. Padahal seharusnya media mendapatkan (pemasukan) dari Google AdSense," kata Ika, saat Pesta Media di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Sabtu (11/4/2026).
Penelitian ini juga menemukan bahwa dari delapan dimensi model bisnis media yang dianalisis, penerapan model bisnis baru oleh anggota AMSI umumnya berada pada kisaran 25–50 persen. Ini menandakan dominannya praktik bisnis konvensional meski medianya sudah beroperasi di ranah digital.
Jika berjalan sesuai rencana, dana jurnalisme dapat mendukung ekosistem media nasional pada akhir tahun 2026.
Mayoritas media masih mengandalkan pendapatan iklan dan sumber non-media, dengan adopsi model inovatif seperti langganan dan afiliasi yang masih terbatas. Selain itu, peran kreator dan konsumen belum dioptimalkan secara strategis. Kreativitas konten masih terpusat pada redaksi, sedangkan pelibatan audiens sebagian besar bersifat pasif.
Temuan ini, lanjut Ika, menegaskan perlunya transformasi lebih mendasar di sisi hulu agar media dapat membangun ketahanan dan kemandirian di tengah dinamika ekosistem digital. Adapun survei ini dilakukan pada Februari-April 2025 dan diolah serta dianalisis hingga September 2025.
"Sering kita dengar kata-kata klasik bahwa saat ini data adalah emas. Kalau emas, seharusnya dijaga, jangan dibagi-bagikan. Data seharusnya bisa menghasilkan bagi perusahaan media," ucapnya.
Wakil Ketua Umum AMSI Citra Dyah Prastuti menegaskan, riset ini seharusnya menjadi dasar pertimbangan yang kuat bagi seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, lembaga pendidikan, sektor swasta, maupun masyarakat, untuk merumuskan kebijakan dan intervensi yang lebih terarah dalam memperkuat media di masa depan.
AMSI juga terus berupaya mendorong advokasi, edukasi kebijakan, dan strategi kolektif. Namun, kadang kala perbedaan kepentingan antar perusahaan media membuat pendekatan tidak bisa seragam.
Meski demikian, ada dorongan untuk membangun kekuatan bersama berbasis data riset. Salah satu temuan penting adalah bahwa penurunan trafik akibat AI itu nyata yang dialami berbagai media.
"Jadi tetap banyak jala yang harus disebar, karena itu dari AMSI ya enggak cuma di area kebijakan dan segala macam, tetapi juga bagaimana bareng-bareng saling belajar soal diversifikasi pemasukan. Ini gampang ngomongnya, susah mengerjakannya," ucap Citra.
Untuk menjaga keberlangsungan media berkualitas, Dewan Pers menggagas pembentukan dana jurnalisme sejak tahun 2025. Dewan Pers kini tak lagi hanya berfokus pada masalah jurnalistik seperti penegakan kode etik dan penyelesaian sengketa pers, tapi juga mulai berperan aktif menata ekosistem pers secara menyeluruh, termasuk aspek keberlanjutan perusahaan media.
Inisiatif dana jurnalisme ini dijalankan oleh Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers. Mereka tidak hanya membahas praktik jurnalistik, tetapi juga menyentuh aspek pendanaan sebagai fondasi utama keberlangsungan media.
Ketua Komisi Digital dan Sustainability sekaligus Anggota Dewan Pers, Dahlan Dahi mengungkapkan, jika seluruh tahapan berjalan sesuai dengan rencana, dana jurnalisme dapat mulai memberikan dampak nyata dalam mendukung ekosistem media nasional pada akhir tahun 2026.
"Dewan Pers periode ini mulai melihat dirinya sebagai bagian dari lembaga yang menata ekosistem, bukan hanya urusan jurnalistik semata,” kata Dahlan.
Adapun Pesta Media yang digelar Aliansi Jurnalis Independen Jakarta ini dirancang sebagai ruang kolaborasi antara jurnalis, pegiat lingkungan, akademisi, komunitas, serta masyarakat umum untuk mendiskusikan berbagai isu penting yang dihadapi Indonesia saat ini. Salah satu isu utamanya yakni disrupsi digital dan AI pada industri media.
Ketua AJI Jakarta Irsyan Hasyim mengatakan, berbagai diskusi di Pesta Media juga menampilkan topik-topik beragam, seperti kerentanan perempuan jurnalis dalam ruang redaksi dan pekerjaan, nasib media saat ini, konservasi dan perlindungan satwa liar, keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, perubahan iklim dan kaum muda, ekstraktif batubara dan ekspansi nikel, hingga perempuan adat.
Pesta Media juga akan menghadirkan lokakarya khusus bagi jurnalis terkait personal branding, jurnalisme solusi, dan jurnalisme untuk konservasi. Selain itu, ada lokakarya zine yang akan bertemakan soal hutan dan pemutaran film yang menampilkan resiliensi masyarakat adat terhadap ekspansi pembangunan di Papua.





