Industri plastik dalam negeri mulai melirik impor bahan baku dari berbagai negara selain Timur Tengah, seperti Amerika Serikat (AS). Selain itu juga memanfaatkan kondensat dan LPG sebagai alternatif di tengah seretnya pasokan nafta.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono mengatakan langkah ini diambil untuk menjaga keberlangsungan produksi di tengah tekanan pasokan global akibat perang Iran-Israel.
“Pokoknya kita lagi berusaha, karena kita sudah ada komitmen, sudah ada dapat barang dari Amerika,” kata Fajar kepada kumparan, Sabtu (11/4).
Selain menjajaki impor dari AS, penggunaan LPG dan kondensat dinilai bisa menjadi solusi untuk menggantikan nafta yang pasokannya terganggu.
Menurut dia, bahan baku plastik pengganti nafta baik LPG maupun kondensat bisa didapat dari negara di luar Timur Tengah, seperti AS, Asia Tengah, Afrika juga Australia. Terlebih menurut dia Indonesia telah memiliki teknologi untuk mengolah LPG dan kondensat menjadi bahan baku plastik.
Fajar memproyeksi bahan baku plastik dari elpiji dan kondensat bisa menggantikan Nafta sebesar 30 hingga 50 persen dari kebutuhan secara nasional. Pada tahun 2025 dan 2026, industri di Tanah Air membutuhkan nafta yaitu sebanyak 4,5 juta ton.
“Kita kan sudah upgrade teknologinya untuk bisa mengolah juga selain nafta, yaitu kondensat dan LPG, sehingga sekarang pun sudah mulai jalan dan LPG yang kita gunakan itu bisa menggantikan nafta itu antara 30-50 persen,” ujarnya.
Untuk mewujudkan industri substitusi nafta ini, Fajar melihat pemerintah perlu memberikan dukungan seperti pemberian insentif pajak berupa PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), khususnya untuk impor LPG dari AS agar harganya lebih kompetitif bagi industri.
“Kalau pemerintah memberikan insentif bea masuk yang 5 persen jadi 0 persen nanti berupa PPN DTP atau insentif fiskal yang lain, itu akan sangat membantu keberadaan dari si nafta tadi, sehingga sumber lokal terhadap biji plastik itu bisa volumenya lebih banyak,” jelasnya.
Lebih lanjut Fajar menjelaskan saat ini industri Tengah berupaya memaksimalkan operasional dengan bahan baku yang ada sebelum bahan baku yang diimpor dari negara alternatif datang dengan waktu pengiriman 50 hari.
“Kita berharap dengan stok yang ada hari ini, sampai 50 hari ke depan, itu bisa nyambung dengan kapal yang akan datang di 50 hari yang akan datang,” jelasnya.





