Standar Dunia Digital: Saat Internet Diam-Diam Mengubah Cara Berpikir Kita

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah kamu membuka media sosial dan mendapati berandamu dipenuhi gambaran kesempurnaan? Orang asing yang baru saja membeli rumah di usia ke-23 tahun atau tips kecantikan dari influencer terkenal dengan jutaan penonton. Konten-konten itu kemudian seperti memberi tekanan instan, seolah kamu sedang tertinggal jauh dari banyak orang yang bahkan tidak kamu kenali.

Gambaran-gambaran kesempurnaan itu seolah perlahan menjadi standar yang harus dipenuhi.

Namun, mengapa hal ini bisa terjadi? Ternyata seorang profesor di bidang komunikasi bernama George Gerbner pernah membahas mengenai hal ini lho! Gerbner bersama dengan rekannya Larry Gross dalam artikel penelitiannya yang berjudul "Living With Television: The Violence Profile" mengembangkan teori yang disebut dengan "cultivation theory".

Apa Itu "Cultivation Theory"

Culvilation theory atau teori kultivasi pada intinya menyatakan bahwa individu yang menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi cenderung memandang dunia nyata melalui sudut pandang yang selaras dengan penggambaran yang sering ditampilkan di televisi. Dalam konteks digital saat ini, teori ini dapat menjelaskan bahwa semakin sering kita terpapar sebuah informasi di media sosial, semakin besar juga kemungkinan kita memandang dunia sesuai dengan informasi tersebut.

Gambaran kehidupan ideal di media sosial yang sering kita lihat, secara sadar maupun tidak sadar mulai membuat kita merasa bahwa gambaran tersebut adalah sesuatu yang wajar. Kemudian, gambaran-gambaran tersebut mulai bertransformasi menjadi standar yang harus kita penuhi.

Memiliki standar akan sesuatu merupakan hal yang lumrah. Masalah muncul ketika kita mulai melupakan bahwa setiap manusia tumbuh di lingkungan yang berbeda, dengan orang-orang yang berbeda, dan memiliki kapasitas yang berbeda pula. Ketika sebuah standar yang hanya menampilkan separuh dari realitas mulai dijadikan sebagai acuan umum, penilaian akan mulai menjadi tidak realistis dan kita akan mulai terjebak dalam pemikiran yang salah.

Survivorship Bias

Survivorship bias adalah kesalahan logika yang terjadi ketika kita berfokus pada sebuah kesuksesan dan mengesampingkan kegagalan. Banyak orang di media sosial menunjukkan kesuksesan mereka dalam membangun sebuah bisnis, sehingga kita mulai berpikir bahwa jika kita mengikuti jalan yang sama, maka kita juga akan sukses. Namun, bagaimana dengan pengusaha muda yang gagal dan mengalami kerugian besar? Kesalahan berpikir ini akan memengaruhi cara kita dalam mengambil sebuah keputusan. Keputusan yang kita ambil akan cenderung terburu-buru dan tanpa mempertimbangkan kemampuan diri serta kemungkinan untuk gagal.

Pengambilan keputusan yang terburu-buru tersebut kemudian akan menjebak kita dalam keputusan yang tidak bijaksana. Kita cenderung akan bingung dan tidak memiliki persiapan yang matang dalam menghadapi risiko kegagalan. Pada akhirnya, ketidaksiapan itu berkemungkinan besar untuk mendorong kita pada kegagalan.

Hasty Generalization

Bayangkan kamu melihat seorang influencer di media sosial yang mengatakan bahwa pasangan yang baik adalah mereka yang tetap meluangkan waktu untuk pasangannya meski sedang memiliki jadwal yang padat. Di kolom komentar, puluhan orang sepakat dan membagikan pengalaman pribadi mereka mengenai hal tersebut. Kemudian, kamu mulai berpikir bahwa pasangan yang baik memang seharusnya meluangkan waktu untuk pasangan mereka walaupun sedang sangat sibuk. Ini merupakan hasty generalization. Ketika sampel yang kecil dianggap mewakili keseluruhan populasi. Pendapat sebagian orang di media sosial langsung kita jadikan standar yang harus dipenuhi baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Saat kita menarik kesimpulan secara cepat, kita akan mulai mengesampingkan faktor-faktor lain yang mungkin memengaruhi sebuah kondisi. Pada akhirnya, akan terjadi bias dalam cara kita menilai sesuatu. Hal ini dapat memengaruhi hubungan sosial kita dengan orang lain karena kita membangun ekspektasi yang besar tanpa mempertimbangkan kemampuan mereka untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Pemahaman bahwa standar internet dapat mengarahkan kita kepada kesalahan berpikir dapat membantu kita untuk lebih bijaksana dalam menyaring segala informasi yang kita dapatkan. Media sosial sejatinya kerap kali tak menampilkan realitas secara utuh. Apa yang ditampilkan sebagian besar hanyalah separuh dari sebuah proses yang panjang.

Selain itu, penting bagi kita untuk memahami kemampuan dan kapasitas diri sendiri. Dengan demikian, kita dapat memilah mana yang dapat kita penuhi dan tidak. Penting juga bagi kita untuk memahami bahwa tidak semua standar atau tuntutan sosial harus kita penuhi karena kita juga harus belajar untuk memahami realitas.

Kesimpulan

Memiliki standar dalam kehidupan adalah hal yang wajar. Dengan adanya standar, kita dapat menentukan apa yang sebenarnya ingin kita capai dalam hidup. Standar hidup juga membantu kita untuk terus maju dan berkembang.

Namun, perlu dipahami juga bahwa standar hidup merupakan sesuatu yang kontekstual dan tidak bisa sepenuhnya digeneralisasi. Pengalaman hidup, kemampuan individu, dan kondisi lingkungan masyarakat harus dijadikan pertimbangan dalam menentukan sebuah standar. Dengan demikian, standar yang kita miliki akan jauh lebih realistis sehingga kita dapat menentukan proses yang jelas dalam pemenuhan standar tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rano Pamer Jakarta Kota Teraman Kedua Asia Tenggara, Kalahkan Bangkok dan Kuala Lumpur
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Pemda Aceh Tamiang Gandeng Lembaga Kemanusiaan Perbaiki Sekolah Terdampak Banjir
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
50 Emisi EBUS Melantai di Bursa, Total Dana Himpunan Capai Rp55,20 Triliun
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Prabowo Ajukan Pengunduran Diri dari PB IPSI: Saya Siap Dukung dengan Jabatan Ataupun Tidak
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Awas Aja Kalau ASN Kota Bekasi Berani Mudik saat WFH, Tri Adhianto Siapkan Sanksi
• 22 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.