Jakarta: Di balik klaim keberhasilan Iran dalam menahan agresi Amerika Serikat dan Israel, Teheran mengakui harus membayar "harga yang sangat mahal" berupa kematian ratusan korban jiwa dari kalangan sipil dan militer.
Fakta memilukan tersebut diungkapkan oleh Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Y.M. Dr. Mohammad Boroujerdi, dalam acara peringatan 40 hari wafatnya Ayatollah Sayyid Ali Khamenei di Universitas Paramadina, Jakarta Timur, Sabtu, 11 April 2026.
Boroujerdi mengungkapkan secara spesifik bahwa serangan militer musuh telah menyasar fasilitas sipil secara brutal. Salah satu tragedi terbesar adalah hancurnya sebuah sekolah dasar yang merenggut nyawa ratusan anak-anak tak berdosa.
"Pada permulaan serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, ada serangan ke sebuah sekolah SD yang menggugurkan 168 siswa di sana," ungkapnya dengan nada duka.
Kerugian yang diderita Iran tidak berhenti di kalangan sipil. Tampuk kepemimpinan militer dan spiritual Iran juga terguncang hebat. Boroujerdi mengakui bahwa negaranya kehilangan banyak jenderal penting di medan pertempuran.
Puncak dari duka nasional tersebut adalah gugurnya Pemimpin Tertinggi sekaligus Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang wafat pada usia 86 tahun di tengah kecamuk konflik.
"Dengan berbagai macam apa yang kita usahakan, tentunya tidak sedikit pengorbanan yang kita berikan. Harga yang kita bayar cukup mahal, bahkan tidak dapat diganti oleh apa pun. Kita telah kehilangan banyak anak-anak, jenderal, dan di puncaknya, pemimpin tertinggi kita," pungkas Boroujerdi.
Meski dilanda duka mendalam, pihak Kedutaan memastikan bahwa Iran tidak akan mundur dan akan terus memperjuangkan hak-hak kemanusiaan serta keutuhan negaranya di mata dunia.
Baca juga: Foto Ketua Parlemen Iran dalam Perjalanan ke Pakistan Viral Jelang Dialog AS-Iran




