Jakarta, VIVA - Tren roti sourdough kembali mencuri perhatian. Tak hanya soal rasa, sourdough juga ramai dibicarakan karena dikaitkan dengan manfaat kesehatan, terutama bagi pencernaan.
Setelah sempat populer saat pandemi, kini roti dengan rasa asam khas ini kembali viral belakangan ini. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan fermentasi, muncul pertanyaan yang sama: apakah sourdough benar lebih sehat dibanding roti biasa, atau sekadar tren yang terlihat lebih artisanal? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Sourdough pada dasarnya dibuat dari tiga bahan sederhana, yaitu tepung, air, dan garam. Namun, yang membedakannya dari roti lain adalah proses fermentasi alaminya. Roti ini menggunakan starter (campuran tepung dan air yang difermentasi dan mengandung ragi liar serta bakteri asam laktat) sehingga tidak membutuhkan ragi instan. Proses ini berlangsung lebih lama, sekitar 12 hingga 24 jam.
“Alih-alih menggunakan ragi instan yang membuat adonan cepat mengembang, sourdough melalui proses fermentasi lambat menggunakan ragi liar dan bakteri asam laktat,” ujar ahli gizi Emer Delaney dikutip dari Martha Stewart pada Sabtu, 11 April 2026.
Dari sisi nutrisi, sourdough sebenarnya tidak jauh berbeda dengan roti lainnya, tergantung jenis tepung yang digunakan. Dalam 100 gram, sourdough mengandung sekitar 319 kalori, yang sedikit lebih tinggi dibanding roti putih maupun gandum.
Kandungan proteinnya mencapai 13 gram, relatif lebih tinggi dibanding beberapa jenis roti lain. Namun, kadar seratnya justru lebih rendah dibanding roti gandum utuh, sementara kandungan lemaknya berada di tingkat moderat. Artinya, sourdough tidak selalu menjadi pilihan paling rendah kalori atau paling tinggi serat.
Keunggulan utama sourdough justru terletak pada proses fermentasinya. Proses ini menghasilkan bakteri baik atau probiotik yang dapat mendukung kesehatan usus, sekaligus menciptakan prebiotik yang membantu pertumbuhan bakteri baik dalam sistem pencernaan.
“Proses fermentasi menghasilkan bakteri baik atau probiotik yang dapat mendukung kesehatan usus. Selain itu juga menghasilkan prebiotik yang membantu pertumbuhan bakteri baik,” jelas ahli gizi Yvette Hill.
Fermentasi ini juga membantu menurunkan indeks glikemik roti, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah setinggi roti biasa.
Selain itu, fermentasi yang berlangsung lama turut memecah sebagian gluten dan pati dalam adonan. Hal ini membuat sourdough lebih mudah dicerna oleh sebagian orang.





