Sourdough Lebih Sehat dari Roti Lain, Benarkah? Begini Penjelasan Ahli Gizi

viva.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Tren roti sourdough kembali mencuri perhatian. Tak hanya soal rasa, sourdough juga ramai dibicarakan karena dikaitkan dengan manfaat kesehatan, terutama bagi pencernaan.

Setelah sempat populer saat pandemi, kini roti dengan rasa asam khas ini kembali viral belakangan ini. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan fermentasi, muncul pertanyaan yang sama: apakah sourdough benar lebih sehat dibanding roti biasa, atau sekadar tren yang terlihat lebih artisanal? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Baca Juga :
Heboh! Kronologi Lengkap Bayi Hampir Hilang Dibawa Orang di RSHS Bandung
Klarifikasi RS Hasan Sadikin Bandung Soal Kejadian Viral Bayi Hampir Tertukar

Sourdough pada dasarnya dibuat dari tiga bahan sederhana, yaitu tepung, air, dan garam. Namun, yang membedakannya dari roti lain adalah proses fermentasi alaminya. Roti ini menggunakan starter (campuran tepung dan air yang difermentasi dan mengandung ragi liar serta bakteri asam laktat) sehingga tidak membutuhkan ragi instan. Proses ini berlangsung lebih lama, sekitar 12 hingga 24 jam. 

“Alih-alih menggunakan ragi instan yang membuat adonan cepat mengembang, sourdough melalui proses fermentasi lambat menggunakan ragi liar dan bakteri asam laktat,” ujar ahli gizi Emer Delaney dikutip dari Martha Stewart pada Sabtu, 11 April 2026. 

Dari sisi nutrisi, sourdough sebenarnya tidak jauh berbeda dengan roti lainnya, tergantung jenis tepung yang digunakan. Dalam 100 gram, sourdough mengandung sekitar 319 kalori, yang sedikit lebih tinggi dibanding roti putih maupun gandum.

Kandungan proteinnya mencapai 13 gram, relatif lebih tinggi dibanding beberapa jenis roti lain. Namun, kadar seratnya justru lebih rendah dibanding roti gandum utuh, sementara kandungan lemaknya berada di tingkat moderat. Artinya, sourdough tidak selalu menjadi pilihan paling rendah kalori atau paling tinggi serat.

Keunggulan utama sourdough justru terletak pada proses fermentasinya. Proses ini menghasilkan bakteri baik atau probiotik yang dapat mendukung kesehatan usus, sekaligus menciptakan prebiotik yang membantu pertumbuhan bakteri baik dalam sistem pencernaan.

“Proses fermentasi menghasilkan bakteri baik atau probiotik yang dapat mendukung kesehatan usus. Selain itu juga menghasilkan prebiotik yang membantu pertumbuhan bakteri baik,” jelas ahli gizi Yvette Hill.

Fermentasi ini juga membantu menurunkan indeks glikemik roti, sehingga tidak menyebabkan lonjakan gula darah setinggi roti biasa.
Selain itu, fermentasi yang berlangsung lama turut memecah sebagian gluten dan pati dalam adonan. Hal ini membuat sourdough lebih mudah dicerna oleh sebagian orang.

Baca Juga :
Bikin Geleng-geleng, Alasan Perawat RSHS Bandung Serahkan Bayi Nina Saleha ke Orang Lain
Heboh Bayi Nyaris Hilang di RSHS Bandung, Ibu Temukan Anaknya di Gendongan Orang Tak Dikenal
Saiful Mujani Dipolisikan Buntut Video Viral Diduga Bermuatan Makar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
STNK Hilang? Simak Prosedur, Syarat, dan Biaya Pengurusannya di Samsat
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Jadwal Salat DKI Jakarta 12 April 2026
• 51 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Profil PT Denera, Holding Khusus Kawal Proyek Waste to Energy Dibentuk Danantara
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Polda Sumsel Gelar Sispamkota 2026, Personel Ditempa Hadapi Gangguan Kamtibmas
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Dinanti! Kemauan Politik Pemerintah Lindungi Pers Nasional dari Praktik Brutal
• 21 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.