Trump Klaim Amerika Serikat Mulai Bersihkan Selat Hormuz: 28 Kapal Penebar Ranjau Iran Hancur!

wartaekonomi.co.id
10 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Amerika Serikat mengklaim bahwa pihaknya tengah membersihkan jalur pelayaran tanker minyak dari Selat Hormuz. Hal ini cukup menjadi kejutan untuk dunia mengingat masih belum usainya negosiasi dari Washington dan Iran di Pakistan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya telah memulai proses pembersihan dari Selat Hormuz. Ia juga mengklaim bahwa pihaknya telah menghancurkan seluruh kapal penebar ranjau milik Iran.

Baca Juga: Iran Yakin Netanyahu Akan Segera Dipenjara di Israel

“Kami mulai membersihkan jalur pelayaran dari Selat Hormuz. 28 kapal penebar ranjau musuh kini berada di dasar laut,” ujarnya, dikutip dari Truth Social.

Sebelumnya, terdapat laporan adanya sejumlah kapal angkatan laut dari Amerika Serikat di Selat Hormuz. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk mengamankan jalur pelayaran yang sebelumnya terganggu akibat konflik.

Namun, Iran membantah laporan tersebut. Teheran menyangkal adanya kapal musuh dalam wilayah tersebut, menunjukkan perbedaan narasi yang tajam antara kedua pihak.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menyalurkan sekitar dua puluh persen pasokan minyak global. Gangguan di wilayah ini selama beberapa pekan terakhir telah menghambat lalu lintas kapal tanker, mengganggu pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar dunia.

Sebagian besar minyak dari wilayah tersebut tidak menuju Amerika Serikat. Namun harga bensin dalam wilayah itu tetap melonjak akibat efek pasar global. Hal ini menegaskan betapa pentingnya stabilitas jalur energi tersebut bagi ekonomi dunia.

Washington dan Iran sendiri telah memulai pembicaraan di Islamabad, Pakistan. Negosiasi ini berlangsung dalam kerangka gencatan senjata yang masih rapuh. Hal ini dipicu oleh pelanggaran berulang terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati, terutama terkait aksi militer dari Israel. Diketahui, Israel melancarkan serangan paling intens ke Lebanon. 

Menurut laporan, sedikitnya lima ledakan besar juga mengguncang wilayah dari dari Beirut. Lebanon melaporkan sedikitnya 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini menjadi serangan yang paling mematikan sejak konflik dimulai pada awal Maret.

Iran beranggapan bahwa kesepakatan gencatan senjata mencakup Lebanon. Sementara Amerika Serikat dan Israel menegaskan sebaliknya. Wakil Presiden AS JD Vance menyebut perbedaan ini sebagai kesalahpahaman dalam proses negosiasi.

Vance menyatakan bahwa negosiator dari negara tersebut mengira gencatan senjata juga mencakup Lebanon. Padahal menurutnya hal tersebut tidaklah demikian. Ia menyebut hal ini sebagai kesalahpahaman yang wajar terjadi dalam proses negosiasi yang kompleks antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca Juga: Amerika Serikat Awasi Rencana Iran Kenakan Tarif di Selat Hormuz

Perbedaan Amerika Serikat dan Iran menunjukkan sensitifnya situasi di Selat Hormuz. Jika operasi militer berlanjut atau terjadi salah perhitungan, konflik dapat kembali meningkat dan berdampak besar pada pasar energi global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rano Pamer Jakarta Kota Teraman Kedua Asia Tenggara, Kalahkan Bangkok dan Kuala Lumpur
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Tyson Fury Tantang Anthony Joshua Usai Menang Dominan di London
• 1 jam lalupantau.com
thumb
Cuaca Panas Bisa Bikin Lansia Jadi Linglung
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Palak Anak Buah, Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo Terima Rp2,7 Miliar dari Pejabat Pemkab
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK Ungkap Kasus Jerat Bupati Tulungagung Gatut Sunu
• 20 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.