Grid.ID - Setiap peringatan Hari Kartini pada 21 April, kebaya menjadi salah satu busana yang paling sering dikenakan oleh perempuan Indonesia. Pakaian tradisional ini tak hanya identik dengan Raden Ajeng Kartini, tetapi juga memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan budaya Nusantara.
Lantas, bagaimana asal-usul kebaya hingga menjadi simbol nasional seperti saat ini?
Asal-Usul Kebaya dalam Catatan Sejarah
Jejak awal kebaya dapat ditelusuri melalui berbagai catatan sejarah kolonial. Dalam buku The History of Java (1817), Thomas Stamford Raffles menyebut pakaian bernama “kalambi” yang dikenakan masyarakat lokal di Hindia Belanda.
Kalambi digambarkan sebagai busana longgar berlengan panjang dengan panjang hingga lutut, umumnya berwarna biru tanpa motif. Sementara itu, sejarawan Inggris William Basil Worsfold dalam bukunya A Visit to Java with an Account of the Founding Singapore menyebut istilah “kabaia”, yaitu atasan pendek yang dipadukan dengan kain panjang atau sarung.
Seiring waktu, kebaya tidak hanya dikenakan oleh masyarakat lokal. Perempuan Eropa yang tinggal di wilayah Hindia Belanda, seperti di Batavia, juga mulai mengadopsi busana ini. Dalam buku Java, Fact and Fancies, Augusta de Wit mencatat bahwa perempuan Eropa mengenakan kebaya putih yang dipadukan dengan sarung berwarna cerah.
Perkembangan Kebaya dari Masa Kerajaan hingga Kolonial
Menurut para peneliti budaya, bentuk awal kebaya diyakini telah muncul sejak era Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, perempuan keraton awalnya hanya mengenakan kemben.
Namun, setelah masuknya pengaruh Islam, mulai digunakan kain tambahan untuk menutup tubuh yang kemudian berkembang menjadi kebaya.
Memasuki periode berikutnya, kebaya menjadi busana resmi perempuan bangsawan Jawa. Material yang digunakan pun beragam, mulai dari beludru, sutra, hingga brokat, lengkap dengan aksesori seperti bros dan kain panjang.
Sementara itu, masyarakat umum mengenakan kebaya dengan bahan yang lebih sederhana, seperti kain tipis atau sifon tanpa banyak hiasan. Pada masa kolonial, kebaya bahkan menjadi penanda status sosial, terutama di kalangan perempuan Eropa yang mengadopsinya dalam acara formal.
Kebaya sebagai Identitas Nasional
Meski tidak berasal dari semua daerah di Indonesia, kebaya berkembang menjadi simbol identitas budaya, khususnya di wilayah Jawa, Sunda, dan Bali. Popularitasnya semakin menguat ketika Soekarno menetapkan kebaya sebagai salah satu busana nasional pada era 1940-an.
Kini, kebaya tidak hanya digunakan dalam acara adat atau perayaan seperti Hari Kartini, tetapi juga tampil dalam berbagai inovasi desain modern tanpa meninggalkan nilai tradisionalnya.
Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan representasi sejarah, budaya, dan identitas perempuan Indonesia. Dari masa kerajaan hingga era modern, kebaya terus berevolusi dan tetap relevan, terutama sebagai simbol semangat emansipasi yang diwariskan oleh Raden Ajeng Kartini. (*)
Artikel Asli




