KALIMAT penutup Saiful Mujani dalam acara halalbihalal pengamat membetot perhatian luas. Kalimatnya agak tidak biasa, menyentak, menyengat dan mengguncang.
Sebagian menyebut kalimat Saiful itu tak lazim diucapkan oleh seorang dengan atribusi pollster dan konsultan politik.
Saiful memang pollster, bahkan termasuk pelopor jajak pendapat (polling) hingga quick count bersama Denny JA sejak demokrasi langsung bersemi tahun 2004 silam.
Namun, ia juga guru besar ilmu politik di FISIP UIN Syarif Hidayatullah. Titel PhD diraihnya di Ohio State University Amerika Serikat tahun 2003.
Setahun kemudian disertasi Saiful bertajuk "Religious Democrats: Democratic culture and Muslim political participation in post Soeharto Indonesia" terpilih sebagai disertasi terbaik di Ohio State University.
Reputasi internasional ia genggam. Dan itu diperkuat dengan status menjadi ilmuwan politik pertama di luar Amerika Serikat yang meraih penghargaan prestisius Franklin L. Burdetts/Pi Sigma Alpha Award dari American Political Science Association (APSA).
Penghargaan serupa pernah diberikan kepada ilmuwan ternama semacam Samuel Huntington, Mancur Olson dan Didney Tarrow (Website FISIP UIN Syarif Hidayatullah).
Dengan atribusi itu, Saiful juga seorang akademisi---bukan sekadar pollster dan konsultan politik.
Baca juga: Kritik Saiful Mujani Tak Perlu Ditakuti
Ketika berbicara di panggung halalbihalal itu, Saiful berperan sebagai intelektual yang sedang menyoal demokrasi negerinya yang pincang.
Ia membahas kekuasaan yang dinilainya "tidak mendengar" dan dalam sejumlah hal tak menggubris suara-suara lain, yakni suara kritis. Lebih dari itu, Saiful menyaksikan kekuasaan telah menabrak batas: Konstitusi.
Saiful lahir tahun 1962 dan besar dalam tradisi intelektualisme Ciputat (baca: UIN Syarif Hifayatullah). Kampus ini sempat menjadi pusat diskursus pada dekade 1990-an, terutama ketika Nurcholish Madjid atau Cak Nur menarik gerbong intelektualisme--secara khusus di sana dan secara umum Indonesia.
Cak Nur tak hanya bicara Islam, tapi juga Indonesia dan demokrasi. Tiga hal itu tidak kontradiktif, tapi memiliki titik temu dalam korespondensi yang saling mengisi.
Cak Nur adalah pusat gravitasi. Ide, gagasan hingga narasi yang diucapkan Cak Nur kadang melampaui zaman sehingga memantik kontroversi dan polemik. Misalnya, saat bicara "Islam Yes, Partai Islam No" di tahun 1970.
Namun, Cak Nur lemah lembut dalam menyatakan pikiran--tak terkecuali ketika berperan penting, yaitu memimpin tokoh-tokoh Islam bertemu Soeharto di Istana sebelum penguasa Orde Baru itu lengser, 20 Mei 1998.
Intelektualisme Saiful tumbuh dan berkembang di masa otoritarianisme Orde Baru, ketika kebebasan berpendapat dan berekspresi dibungkam, politik haram dibicarakan saban hari karena depolitisasi. Bisa dipahami jika Saiful sensitif terhadap otoritarianisme.





