TVRINews – Yerusalem
Sinyal Keras Yerusalem di Tengah Perundingan Damai
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa kampanye militer negaranya terhadap Iran masih jauh dari kata usai.
Meski baru saja memberikan lampu hijau untuk pembicaraan damai dengan Lebanon, Netanyahu memastikan bahwa fokus Israel terhadap ancaman Teheran tetap menjadi prioritas utama.
"Kampanye ini belum berakhir. Kita masih bertempur melawan mereka," tegas Netanyahu dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan bahwa meski banyak pencapaian telah diraih, masih ada "pekerjaan besar" yang harus diselesaikan untuk menjamin keamanan absolut Israel.
Ancaman Nuklir: Diplomasi atau Jalur Lain
Pernyataan ini muncul di tengah momentum krusial, saat Amerika Serikat dan Iran sedang terlibat dalam negosiasi damai intensif yang dimediasi oleh Pakistan.
Namun, Netanyahu tampak enggan menurunkan tensi, terutama terkait ambisi nuklir Iran.
Dalam pidatonya Sabtu 11 April 2026, Netanyahu memaparkan sejumlah keberhasilan militer Israel, termasuk klaim atas pelumpuhan program nuklir Iran. Namun, ia memperingatkan bahwa ancaman material nuklir yang diperkaya masih nyata.
"Pencapaian ini belum tuntas. Masih ada material yang diperkaya di Iran. Sebagaimana dikatakan Presiden Trump, material itu harus disingkirkan. Baik melalui kesepakatan, atau dengan cara lain," pungkasnya.
Dilema Stabilitas Kawasan
Sikap keras kepala Netanyahu ini memberikan sinyal ganda bagi stabilitas Timur Tengah.
Di satu sisi, Israel menunjukkan keterbukaan terhadap gencatan senjata di Lebanon, namun di sisi lain, bayang-bayang konfrontasi langsung dengan Iran tetap membayangi.
Ketegasan Netanyahu untuk menggunakan "cara lain" jika diplomasi gagal menjadi pesan peringatan serius bagi komunitas internasional yang sedang mengupayakan jalan damai.
Editor: Redaksi TVRINews





