Said Abdullah: NU dan PDIP Punya Cita-cita Ideologi yang Sama

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah, menyampaikan pesan penting dari ibadah sosial di Bulan Syawal. Yakni, tentang jati diri di Jawa Timur, apa masalah bersama, dan bagaimana perjuangan ke depan, serta tentang wajah dunia yang makin dipenuhi kepalsuan.

“Jawa Timur ini basisnya Ijo-Abang (hijau-merah), santri dan abangan, santri cerminan dari kekuatan Nahdlatul Ulama (NU), abang menandakan kekuatan nasional, PDI Perjuangan. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung kampung di Jawa Timur,” ujar Said dalam acara halalbihalal yang dikutip pada Minggu, 12 April 2026.

Tetapi, lanjut dia, pembelahan sosial yang digambarkan Clifort Geerzt sejak era 50-an kini semakin melebur. Di berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku NU ternyata suaranya terbanyak disalurkan ke PDI Perjuangan. Oleh sebab itu, PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur tidak akan meninggalkan NU.

“Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu saja, yang satu rajin salat, yang satu kurang rajin salat. Tetapi nasibnya sama, sama-sama miskin, sama-sama mayoritas yang terbelakang dari sisi pendidikan, sama-sama susah mendapatkan pekerjaan yang layak, pokoknya sama-sama kisah sedih isinya. Banyak kesamaannya, minim perbedaanya,” ujar dia.

Dia menjelaskan tugas sosial pengurus NU memberdayakan warga NU, sedangkan tugas politik PDI Perjuangan memperjuangkan kebijakan di pemerintahan daerah, DPRD hingga pusat, serta menyejahterakan warga NU dan rakyat Jawa Timur keseluruhan.

“NU dan PDI Perjuangan memiliki cita-cita ideologis yang sama. Nilai-nilai Ke-NU-an, yakni kekuatan Islam yang senantiasa memedomani Islam Wasathiyah, yakni Islam moderat, yang menekankan prinsip pertengahan, adil, seimbang (tawazun), dan toleran (tasamuh) dalam segala dimensi kehidupan, menolak ekstremisme baik kiri maupun kanan,” ujar dia.

Dia menyampaikan Islam Wasathiyah ini menjadi pedoman langkah langkah politik PDI Perjuangan. Pihaknya menolak Islam dihadirkan secara menakutkan, terutama di hadapan kelompok minoritas.

“Keislaman harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian,” ucap dia.

Oleh karena itu, dia senang sekali bila ada tokoh tokoh NU ikut menjadikan PDI Perjuangan sebagai rumah politiknya. Di Jawa Timur, ada Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Abdul Wahab Ahmad (Gus Wahab), dan di DPP PDIP ada Abdullah Aswar Anas, dan masih banyak lagi.

“Saya berharap para kiai, gus, bu nyai dan ning ikut ber-ijtihad politik, membersamai PDI Perjuangan, agar tadinya anak anak ini kurang baik ibadahnya, kemudian menjadi lebih baik. Jadi,  berdakwah dan membersamai PDI Perjuangan itu ganjarannya berlipat lipat,” ujar dia.

Acara halalbihalal yang saat ini dilaksanakan ini, kata dia, merupakan ide dan diprakarsai pendiri NU, KH Wahab Hasbullah, kakeknya Gus Wahab dan Presiden pertama RI, Soekarno (Bung Karno).

Pada 1948, KH Abdul Wahab Hasbullah, memperkenalkan istilah halalbihalal kepada Bung Karno sebagai suatu cara silaturahmi antar pemimpin politik yang ketika itu sedang konflik politik aliran. Padahal Indonesia baru seumur jagung dan butuh persatuan nasional untuk melawan Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia

“Atas saran KH Wahab, selepas Hari Raya Idulfitri 1948, Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik ke Istana Negara untuk silaturahmi yang diberi nama halalbihalal. Para tokoh politik pun akhirnya duduk satu meja. Para pendahulu kita selalu punya gagasan super cerdas untuk merawat persatuan. Tradisi baik ini harus kita lanjutkan,” ujar dia.

Terlihat jelas, lanjut dia, halalbihalal difungsikan untuk menjahit silaturahmi, mengajak pengakuan dosa, dan ditutup dengan permohonan maaf. Halalbihalal menghapus besarnya ego, dan kecongkakan. HalalBihalal membangun citra diri jujur, yang berseberangan dengan kepalsuan.

“Karena halalbihalal tradisi baik, baik bila ditunaikan setiap waktu, walau umumnya di Bulan Syawal. Tradisi ini perlu dijaga, di tengah budaya kepalsuan yang tumbuh di mana-mana. Sering yang kita lihat asli padahal palsu, apalagi di era media sosial. Kita memasuki era post truth. Keadaan kita mengalami kesusahan untuk membedakan benar salah, kejujuran dan kebohongan, autentisitas dan kepalsuan,” beber dia.

Baca Juga:  Said Abdullah: Dunia Harus Menghukum Israel



Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim, Said Abdullah. Dok. Istimewa

Dia menyampaikan di zaman saat Rasulullah masih hidup, ayat-ayat Al-Quran dipalsukan oleh Musailamah al-Kadzdzab. Dia memalsukan Surat Al Fil, dan mengaku Nabi dari Bani Hanifah, dan membuat ayat tandingan di Surat Al Fil, isinya

“Al fiil, Maa al fiil Wamaa adraaka mall fil. Al fiil lahi dzanabun watsiilun wa khurtumun thawil. Gajah apakah gajah itu. Tahukan kamu apakah gajah itu. Ia mempunyai ekor yang kecil dan belalai yang panjang.”

Pemalsuan ini malah ditertawakan oleh umat Islam waktu itu, selain karena masih ada Nabi Muhammad sebagai pemegang otoritas kenabian, tetapi juga pemalsuan ayat tersebut jauh panggang dengan bahasa Al-Quran yang tinggi, sastrawi, dan di luar kemampuan akal manusia cerdas sekalipun.

Menurut dia, kepalsuan kini merambah kemana-mana. Media sosial menjadi topeng, menutup wajah asli dan mampu mengubah seribu wajah sesuai kepentingan.

“Apa sarana kita tidak terjebak pada kepalsuan? Sering-sering bertabayun dan silaturahmi, meninggikan akal budi, dan selalu membuka hati, berpegang teguh pada jalan yang diridai Allah SWT. Semuanya jadi pegangan, meniti jalan hidup agar bisa menemukan kesejatian, tidak mudah di ombang-ambingkan kepalsuan,” ujar dia.

Berpolitik juga demikian, lanjut dia, konsisten, adil sejak dari pikiran, teguh dalam perjuangan, tidak hasut sana sini, dan senantiasa membuka tali silaturahmi serta rendah hati, dan cakap berfikir jernih. “InsyaAllah PDI Perjuangan akan konsisten memegang nilai nilai ini,” ucap dia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kadin Indonesia Beberkan Potensi Ekonomi Papua, Tak Hanya pada Emas dan Tembaga
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Jemaah Haji Kuningan Mulai Jalani Cek Kesehatan Tahap Akhir
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Club Dangdut Racun Umumkan Kolaborasi dengan MikkyZia, Bakal Manggung Bareng di Festival Musik
• 4 jam laluviva.co.id
thumb
Komisi VIII Kritik Wacana War Tiket Haji: Timbulkan Kecemburuan
• 12 jam laludisway.id
thumb
Ratusan Wasit dan Petugas Video Diterjunkan Untuk Kawal Piala Dunia 2026
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.