HARIAN FAJAR, SURABAYA – Kekalahan Persebaya Surabaya 0-3 dari Persija Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (11/4/2026) sungguh memalukan. Mandulnya pemain depan skuad Bernardo Tavares, seperti Bruno Paraiba, menjadi sorotan utama. Pasalnya, Green Force sama sekali tidak mampu mencatatkan shot on target ke gawang lawan. Tavares butuh sosok kapten Bruno Moreira yang absen pada laga ini.
Statistik pertandingan menunjukkan Persebaya melepaskan 10 tembakan, namun ironisnya tidak satu pun mengarah ke gawang. Sebaliknya, Persija Jakarta mencatat 12 tembakan dengan 6 di antaranya tepat sasaran. Perbedaan ini menggambarkan jurang kualitas dalam penyelesaian akhir yang cukup lebar antara kedua tim.
Ball possession juga memperlihatkan dominasi tuan rumah dengan penguasaan bola mencapai 67 persen, sementara Persebaya hanya 33 persen. Minimnya penguasaan bola membuat Persebaya kesulitan mengembangkan alur serangan yang efektif dan terstruktur.
Tekanan Mental dan Kesalahan MendasarPelatih Bernardo Tavares menegaskan bahwa gol cepat Persija pada menit ke-16, yang berasal dari penalti setelah pengecekan VAR, menjadi titik balik pertandingan. Menurutnya, gol tersebut berawal dari kesalahan mendasar yang seharusnya bisa dihindari jika para pemain lebih disiplin.
“Gol pertama yang kami terima berawal dari kesalahan yang sangat mendasar. Itu yang membuat saya kecewa,” jelas pelatih asal Portugal itu.
Lebih lanjut, Bernardo menyoroti aspek mental sebagai penyebab penurunan performa tim. Ia menyatakan bahwa setelah tertinggal, kontrol emosi dan fokus para pemain menurun drastis.
“Ketika situasi tidak berjalan baik, kontrol emosi dan fokus kami menurun,” katanya. Ia menambahkan bahwa hal ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi tim jika ingin bersaing di level atas.
Pengaruh Atmosfer dan Kurangnya PenetrasiAtmosfer Stadion Utama Gelora Bung Karno yang dipenuhi suporter Persija Jakarta memberikan tekanan tambahan. Dukungan masif suporter tuan rumah membuat Persija tampil lebih percaya diri dan agresif, sementara Persebaya justru kehilangan ritme permainan dan gagal keluar dari tekanan.
Jumlah sentuhan di kotak penalti lawan juga menunjukkan ketimpangan signifikan, dengan Persija mencatat 51 sentuhan berbanding 22 sentuhan Persebaya. Umpan ke sepertiga akhir lapangan pun hanya 21 untuk Persebaya, jauh tertinggal dari Persija yang mencapai 51 umpan.
Evaluasi dan Tantangan ke DepanBernardo Tavares mengakui kekalahan ini sebagai pelajaran penting dan menegaskan bahwa tim harus segera berbenah agar tidak terus terpuruk.
“Hari ini memang bukan hari kami. Kami harus belajar dari pertandingan ini,” bebernya. Evaluasi menyeluruh akan menjadi fokus utama setelah laga ini.
Persebaya kini dihadapkan pada tantangan besar untuk memperbaiki lini depan. Konsistensi, ketenangan, dan ketajaman menjadi kunci yang harus segera ditemukan kembali agar hasil serupa tidak terulang.
Kegagalan mencatatkan satu pun shot on target bukan sekadar soal hasil pertandingan, melainkan cerminan masalah serius yang harus segera diselesaikan demi masa depan tim.





