Pantau - Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap tangguh di tengah tekanan global, meski daya tahannya kini sedang diuji.
Rahma mengatakan, "Resiliensi (APBN) ini sedang diuji sampai ke batasnya. Jika harga minyak bertahan di atas 90 dolar AS per barel dalam jangka panjang, pemerintah harus memilih antara menambah utang (melebarkan defisit) atau menaikkan harga BBM agar APBN tidak ‘jebol’,".
Per Maret 2026, defisit anggaran tercatat mencapai sekitar Rp240,1 triliun.
Angka tersebut meningkat sekitar 140 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Target defisit pemerintah berada di kisaran 2,68 persen terhadap PDB dengan batas aman konstitusi sebesar 3 persen.
Risiko defisit mendekati batas tersebut dinilai meningkat jika tekanan global terus berlanjut.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah telah mengantisipasi berbagai skenario.
Ia mengatakan, "Ini sudah kami hitung semua. Nanti bahkan dengan rata-rata harga minyak dunia 100 dolar AS per barel pun kami sudah kunci defisitnya di bawah 3 persen. Itu sekitar 2,9 persen. Jadi, nggak masalah,".
Pemerintah juga memiliki cadangan fiskal berupa Saldo Anggaran Lebih sekitar Rp420 triliun yang dapat digunakan jika kondisi ekonomi memburuk.
Pengelolaan fiskal disebut harus dilakukan secara hati-hati di tengah ketidakpastian global dan geopolitik.
Pemerintah melakukan efisiensi belanja kementerian serta menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi untuk melindungi daya beli masyarakat.
Kondisi APBN saat ini mencerminkan tantangan ekonomi global yang turut memengaruhi kebijakan fiskal nasional.




