Rentetan Gempa Dangkal di Flores Timur, 257 Bangunan Rusak dan 1.663 Warga Mengungsi

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita

KUPANG, KOMPAS - Rentetan gempa bumi dangkal menyebabkan 257 bangunan rusak serta 1.663 warga mengungsi di sepuluh desa di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Sejak gempa pertama pada Kamis (9/4/2026) lalu, gempa susulan terjadi sebanyak 108 kali.

Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flores Timur Maria Goretty AC Nebo Tukan, dalam laporannya yang diterima pada Minggu (12/4/2026), menyebutkan, ada dua kecamatan yang terdampak gempa itu.

Keduanya adalah Kecamatan Adonara Timur dengan tujuh desa/kelurahan terdampak dan Kecamatan Solor Timur dengan tiga desa terdampak. Jumlah pengungsi di Adonara Timur sebanyak 1.240 jiwa, sedangkan di Solor Timur sebanyak 423 jiwa. Adapun 257 bangunan dilaporkan rusak.

Pusat gempa dangkal itu berada di dekat dua daerah tersebut. Wilayah lainnya juga mengalami guncangan, namun tidak terjadi kerusakan berarti. Tidak ada korban jiwa akibat gempa tersebut dan sebanyak 18 orang dilaporkan mengalami luka ringan.

Maria mengatakan, bantuan untuk para pengungsi sudah dibagikan beberapa jam setelah kejadian gempa pertama. Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen disebut langsung mendatangi lokasi bencana dan telah mengumumkan status tanggap darurat selama 14 hari.

Bantuan yang sudah disalurkan, antara lain, adalah tenda dalam berbagai ukuran, kasur lipat, tikar, perlengkapan kesehatan, senter, dan beras. Selain BPBD, personel gabungan dari TNI dan Polri juga terlibat dalam upaya tanggap darurat.

Baca JugaGempa Guncang Flores Timur, Ratusan Rumah Rusak dan Puluhan Warga Terluka

Meski begitu, masih banyak kebutuhan yang belum terpenuhi, seperti air bersih, perlengkapan balita, popok dewasa, tandu, kursi roda, makanan balita, dan perlengkapan mandi. Oleh karena itu, bantuan dari pemerintah pusat maupun pihak lain sangat dibutuhkan.

Apalagi, perhatian pemerintah daerah saat ini masih tercurah kepada nasib pengungsi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang juga berada di Flores Timur. Ribuan pengungsi yang tinggal di hunian sementara masih terus didampingi. Pembangunan hunian tetap juga masih berproses.

Mansyur (40), salah satu warga yang mengungsi akibat gempa, mengatakan, pemerintah daerah seperti kewalahan menghadapi kondisi darurat akibat bencana itu. Dia menyebut, jumlah bantuan yang datang jauh di bawah kebutuhan para pengungsi. Akibatnya, banyak pengungsi tidak kebagian tenda keluarga. Makanan yang dibagikan juga sangat terbatas.

Mansyur menambahkan, beruntung masyarakat di Flores Timur yang tak terdampak bencana juga bersolidaritas untuk membantu para korban. Meski dalam jumlah terbatas, bantuan terus berdatangan. Kebanyakan bantuan berupa bahan makanan. "Untuk tempat tinggal, ada pengungsi yang menumpang di rumah keluarga dan kerabat," katanya.

Baca JugaPemda Kewalahan Atasi Gempa Adonara, Minta Bantuan Pemerintah Pusat
Gempa susulan

Laporan dari Stasiun Geofisika Kupang menyebutkan, sejak gempa pertama pada Kamis (9/4) lalu, sudah terjadi 108 kali gempa susulan. Hingga Minggu pagi ini, sebanyak enam kejadian gempa dirasakan guncangannya oleh masyarakat.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala Stasiun Geofisika Kupang Arief Tyastama mengatakan, gempa pertama kali terjadi pada Kamis pukul 00.17 Wita. Pusat gempa dengan Magnituo 4,7 itu berada pada koordinat 8,36 derajat Lintang Selatan dan 123,15 derajat Bujur Timur.

Pusat gempa itu berlokasi di darat pada jarak 21 kilometer arah tenggara Larantuka, ibu kota Flores Timur. Dari peta gempa yang dirilis Badan Metorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa itu berada di ujung timur Pulau Solor dan sisi selatan Pulau Adonara.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi ini merupakan gempa bumi dangkal akibat adanya aktifitas sesar aktif," kata Arief.

Menurut data BMKG, gempa bumi tersebut dirasakan getarannya di seluruh wilayah Kabupaten Flores Timur dengan skala intensitas III-IV MMI. Masyarakat di kabupaten terdekat, yakni Lembata, juga merasakan gempa itu dengan getaran yang dirasakan seperti ada truk berlalu.

Untuk tempat tinggal, ada pengungsi yang menumpang di rumah keluarga dan kerabat


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Krisis Selat Hormuz Jadi Peluang Emas, Indonesia Diburu untuk Pasokan Pupuk
• 5 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Tersangka, Bongkar Siasat Licik Gatut Sunu Peras Kepala OPD Rp5 Miliar
• 13 jam laluharianfajar
thumb
Kadin Indonesia Beberkan Potensi Ekonomi Papua, Tak Hanya pada Emas dan Tembaga
• 1 jam laluviva.co.id
thumb
Sugiono Terpilih Jadi Ketua Umum PB IPSI 2026-2030
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga Pangan Akhir Pekan: Bawang Putih Naik 2,5%
• 10 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.