Ramalan Harga Emas Logam Mulia Tembus Rp3,1 Juta per Gram

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas global diprediksi tengah bersiap mencatatkan reli historis menuju level US$5.000 per troy ons. Jika skenario ini terjadi, harga emas batangan atau logam mulia di pasar domestik diperkirakan melonjak hingga menembus level psikologis baru di angka Rp3,1 juta per gram.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan volatilitas tinggi yang terjadi saat ini membuka peluang rentang harga yang sangat lebar bagi emas. Dalam skenario kenaikan agresif, emas dunia berpotensi melompat ke level US$5.138 per troy ons seiring dengan eskalasi ketegangan global.

“Dalam sepekan ke depan, ada kemungkinan besar harga emas dunia akan melompat di atas US$5.000, tepatnya di US$5.138 per troy ounce. Jika ini terjadi, harga logam mulia di dalam negeri berpotensi melesat ke Rp3,1 juta per gram,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Baca Juga : Kesempatan Masuk Saat Harga Emas Ambrol 12% ke Level US$4.608 per Troy Ounce

Ibrahim menilai bahwa secara fakta di lapangan, "Perang Dunia Ketiga" sebenarnya sudah berjalan seiring dengan keterlibatan negara-negara besar dalam konflik geopolitik di Timur Tengah. 

Hal tersebut mendorong bank sentral global untuk terus mencari alternatif cadangan devisa selain dolar AS, dengan logam mulia menjadi pilihan utama. 

Di samping itu, eskalasi di kawasan Selat Hormuz juga menjadi kunci. Jika terjadi perang terbuka dan jalur distribusi minyak tersumbat, harga minyak mentah diprediksi akan meroket, yang kemudian memicu lonjakan inflasi global.  

Dalam kondisi ketidakpastian ekstrem seperti ini, emas kembali membuktikan perannya sebagai aset pelindung nilai (safe-haven) paling mumpuni.

“Kenaikan harga minyak mentah berdampak negatif terhadap ekonomi global, dan orang menganggap sudah terjadi perang yang cukup dahsyat. Ini yang membuat harga emas condong terus mengalami kenaikan,” ucapnya.  

Selain geopolitik, faktor kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) di bawah kendali pemerintahan Donald Trump turut memberikan angin segar bagi emas. Spekulasi mengenai penunjukan Kevin Warsh sebagai suksesor di bank sentral AS memicu ekspektasi adanya kebijakan yang lebih akomodatif.

Menurut Ibrahim, pasar melihat adanya potensi kerja sama yang lebih harmonis antara pemerintah AS dan bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan secara historis merupakan katalis positif bagi harga emas karena menurunkan biaya peluang. 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sopir Bajaj Dipalak Preman Tanah Abang, Diteriaki Maling jika Tak Beri Uang
• 20 jam lalukompas.com
thumb
BGN kembali tangguhkan ratusan SPPG di wilayah Jawa dan timur RI
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Energi Nasional, STS Kalbut Jadi Urat Nadi Distribusi LPG
• 23 jam lalurepublika.co.id
thumb
Link Live Streaming Indonesia vs Thailand Final Piala AFF Futsal 2026 Malam Ini Pukul 20.00 WIB
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Forum Anak Natuna dukung penuh PP Tunas
• 5 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.