JAKARTA, KOMPAS.com – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan tidak akan memberikan kompromi terhadap segala bentuk premanisme di Ibu Kota.
Hal itu ia sampaikan usai ditanya wartawan terkait kasus sopir bajaj di Tanah Abang, Jakarta Pusat, diduga dipalak preman.
“Enggak ada kompromi lagi premanisme di Jakarta. Sebagai gubernur, saya enggak ragu-ragu untuk itu (menindak),” ujar Pramono saat ditemui di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).
Baca juga: Penyuplai Listrik Ilegal ke PKL di Bogor Dipanggil Camat, Janji Tak Beri Akses Lagi
Terkait kasus dugaan pemalakan terhadap sopir bajaj di Tanah Abang, Pramono mengaku telah melihat video yang viral di media sosial dan langsung meminta dinas terkait untuk menindaklanjutinya.
“Kemarin saya sudah melihat videonya dan saya sudah meminta kepada Satpol PP, kepada kepala dinas, untuk mengambil tindakan tegas terhadap hal itu,” kata dia.
Sebelumnya diberitakan, sebuah video yang memperlihatkan seorang sopir bajaj diduga menjadi korban pemalakan oleh dua pria di kawasan Tanah Abang viral di media sosial pada Sabtu (11/4/2026).
Dalam video tersebut, sopir bajaj mengaku harus menyetor uang hingga Rp 100.000 per hari untuk menghindari intimidasi.
Rekaman itu menunjukkan sopir bajaj memberikan sesuatu dari dalam tas kepada seorang pria berkaos hitam, bercelana khaki, dan bertopi hitam. Pria tersebut kemudian berjalan menjauh sambil membawa sesuatu.
Tak lama kemudian, seorang pria lain yang mengenakan jaket hoodie dan bertopi putih mendekati bajaj dan kembali meminta sesuatu kepada sopir. Dalam video tersebut, penumpang sempat menanyakan praktik yang terjadi.
Baca juga: Ada Proyek Perpanjangan Peron, Akses Tap In-Tap Out di Stasiun Bogor Akan Disesuaikan
“Kalau di Tanah Abang memang kayak gitu ya, Bang? Dimintain apa tuh? Tapi ‘palak’ atau habis apa sih, Bang?” tanya penumpang.
“Ya, palak,” jawab sopir bajaj.
Sambil menjelaskan, sopir bajaj juga memperlihatkan kaca kendaraannya yang retak panjang. Ia mengatakan kerusakan tersebut terjadi akibat dipukul oleh pelaku pemalakan saat dirinya terlambat memberikan uang.
“Bukannya saya enggak berani ngelawan, tapi saya nyari makan juga di situ,” kata sopir bajaj.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang, AKP Ikhsan Rangga, menyatakan bahwa pihaknya masih mendalami kasus tersebut.
“Sedang didalami dan diselidiki,” ujar Ikhsan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




