Di tengah sorotan publik terhadap dugaan rekayasa laporan kerja fiktif 'before-after' menggunakan rekayasa kecerdasan buatan (AI), muncul sosok berbeda dari lapangan.
Mukhlisin (41), petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dari Penjaringan, Jakarta Utara, memilih menunjukkan kerja nyata, bukan sekadar visual 'before-after' rekayasa AI di layar.
Ditemui kumparan di Kantor Lurah Penjaringan, Minggu (12/4), Mukhlisin bercerita bagaimana unggahan sederhana di media sosial justru membawanya ke Balai Kota.
“Awalnya dari postingan saya di media sosial. Ada yang lihat, terus saya dapat undangan lewat DM, dipanggil ke Balai Kota,” ujar Mukhlisin kepada kumparan, Minggu (12/4).
Ia mengaku mendapat apresiasi dari Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, meski tak banyak berkomentar soal bentuk penghargaan tersebut.
Melawan Stigma Lewat Media SosialBagi Mukhlisin, media sosial bukan kewajiban, melainkan cara membantah stigma. Ia ingin membuktikan bahwa PPSU tidak sekadar “foto lalu pergi”, seperti yang kerap dituduhkan sebagian warga.
“Sebenarnya bukan tugas saya untuk posting ke medsos. Tapi saya pengin buktiin aja ke masyarakat kalau PPSU itu beneran kerja,” katanya.
Langkah itu terasa kontras dengan kasus yang belakangan mencuat. Sebelumnya, publik dihebohkan dengan temuan laporan kerja fiktif berbasis AI di wilayah Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Dalam kasus tersebut, oknum petugas diduga mengunggah foto hasil editan untuk menunjukkan seolah-olah penanganan telah dilakukan, padahal kondisi lapangan berbeda.
Kasus itu berujung pada penonaktifan lurah setempat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sekaligus menjadi pengingat pentingnya integritas dalam pelayanan publik.
Rutinitas Pagi hingga Sore di JalananDi sisi lain, Mukhlisin menjalani rutinitasnya tanpa polesan. Setiap pagi, ia sudah bersiap sejak pukul 05.00 WIB untuk mulai bekerja pukul 06.00 WIB. Zona kerjanya berada di sepanjang Jalan Jembatan Tiga, dengan tanggung jawab sekitar satu kilometer area.
Ia menyapu, mengumpulkan sampah, dan memastikan jalan tetap bersih hingga siang hari, lalu kembali bekerja setelah istirahat. Aktivitas itu dilakukannya hampir setiap hari, dengan sistem kerja bergilir termasuk akhir pekan.
Pekerjaan ini bukan hal baru baginya. Sejak 2010, Mukhlisin sudah berkecimpung di bidang kebersihan, mengikuti jejak orang tuanya yang lebih dulu bekerja di sektor serupa.
“Orang tua saya juga di bidang kebersihan. Dari kecil saya diajarin, pekerjaan ini mulia. Walaupun kotor, yang penting halal,” ujarnya.
Prinsip itu yang membuatnya tetap bertahan, bahkan saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan.
Ia mengaku pernah mengalami momen ketika jalan yang baru saja dibersihkan kembali dikotori oleh orang yang membuang sampah sembarangan di hadapannya.
“Pernah lagi nyapu capek-capek, udah bersih, tiba-tiba ada yang lempar sampah. Dalam hati ya cuma bilang, ‘kok begini amat orang’,” katanya.
Antara Apresiasi dan Komentar NegatifMeski demikian, ia memilih tidak larut dalam kekesalan. Baginya, pekerjaan ini dijalani dengan niat tulus, sehingga rasa lelah atau duka tidak terlalu ia rasakan.
Di tengah viralnya dirinya sebagai “PPSU jujur”, Mukhlisin juga menyadari adanya komentar negatif dari warganet. Namun, ia mengaku tidak terlalu mempedulikannya.
“Yang penting saya niat kerja ya kerja. Saya posting juga supaya masyarakat tahu PPSU itu kerja beneran,” ujarnya.
Di balik rutinitasnya, ada perjalanan harian yang tak ringan. Mukhlisin tinggal di kawasan Cibodas, Tangerang, dan harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit di pagi hari hingga satu setengah jam saat pulang. Ia menggunakan sepeda motor untuk berangkat kerja.
Mukhlisin kini hidup bersama istri dan dua anaknya, yang juga ia tanamkan nilai sederhana, yaitu menjaga kebersihan lingkungan.
“Anak saya juga selalu saya bilang, buang sampah pada tempatnya. Jangan sembarangan,” tuturnya.
Pesan Sederhana untuk WargaBagi Mukhlisin, menjaga kebersihan bukan sekadar tugas, melainkan tanggung jawab bersama. Ia bahkan tak segan menegur warga yang masih membuang sampah sembarangan di ruang publik.
“Kalau ada tukang sampah, kasih ke mereka. Tugas PPSU itu membersihkan dan merapikan, bukan jadi tempat buang sembarangan,” katanya.
Di tengah era ketika teknologi bisa memanipulasi realitas, kisah Mukhlisin menjadi pengingat bahwa kejujuran dalam kerja tidak bisa digantikan oleh kecanggihan apa pun. Di jalanan yang ia sapu setiap hari, ada nilai yang ia jaga, kerja nyata, tanpa rekayasa.




