Pemerintahan Seamless: dari Transisi ke Cara Kerja Negara

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Pemerintahan seamless bukan lagi istilah teknis. Ia mulai terlihat sebagai arah kerja negara. Dalam rapat kerja pemerintah di Istana, 8 April 2026, Presiden Prabowo Subianto menyebut kata seamless dalam dua konteks. Pertama, untuk menjelaskan transisi kepemimpinan dari pemerintahan Joko Widodo yang berjalan lancar. Kedua, untuk menegaskan cara kerja pemerintahan ke depan: harus seamless, cepat, dan terintegrasi, tanpa pemikiran sektoral.

Artinya jelas. Seamless bukan lagi soal masa lalu. Ia menjadi tuntutan terhadap cara negara bekerja.

Seamless dalam Transisi Kekuasaan

Namun, menyebut transisi itu seamless tidak bisa dilepaskan dari konteks politik. Dalam konteks Indonesia, stabilitas transisi tidak hanya disebabkan oleh sistem yang berjalan dengan baik. Ada faktor politik yang kuat di baliknya.

Koalisi antara kekuatan lama dan pemerintahan baru turut menjaga stabilitas. Potensi konflik bisa ditekan. Transisi menjadi lebih terkendali.

Dalam kajian politik, kondisi ini dikenal sebagai elite settlement oleh John Higley dan Michael Burton. Intinya sederhana: stabilitas sering kali terjadi karena kesepakatan elite, bukan hanya karena sistem yang matang.

Karena itu, seamless transition bukan hanya soal institusi. Ia juga hasil konsolidasi politik. Di sinilah dua makna seamless bertemu: transisi kekuasaan dan cara kerja pemerintahan. Namun, keduanya tidak sama. Transisi bisa mulus. Sistem belum tentu terintegrasi. Transisi yang stabil tidak secara otomatis menghasilkan pemerintahan yang terintegrasi.

Fragmentasi dalam Praktik Pemerintahan

Ketika konsep ini diterapkan dalam praktik sehari-hari, masalahnya mulai terlihat. Hubungan antarkementerian dan lembaga belum sepenuhnya terhubung. Koordinasi antara pusat dan daerah juga belum solid.

Kasus penanganan bencana di Sumatera menjadi contoh nyata. Data tidak selalu sama. Respons antarlembaga berbeda. Koordinasi masih tersendat.

Dalam kondisi krisis, ini berbahaya. Keputusan menjadi lambat. Risiko kesalahan meningkat. Dampaknya langsung terasa pada kualitas kebijakan.

Masalah ini bukan kasus tunggal. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya menunjukkan bahwa pemerintah sedang bergerak menuju “memerintah dengan data” (Kumparan, 15/03/2026). Namun di lapangan, data belum benar-benar terintegrasi. Sistem masih terpisah. Kesalahan kecil dapat berdampak besar pada layanan publik.

Masalah ini juga menyentuh kepercayaan publik. Dalam tulisan lain, saya menekankan bahwa kepercayaan saat ini sangat bergantung pada konsistensi informasi. Jika data berbeda antarinstansi, publik akan menjadi ragu. Jika informasi berubah-ubah, kepercayaan pun ikut menurun (Kumparan, 10/03/2026).

Masalah utamanya jelas. Birokrasi masih bekerja dalam pola lama. Setiap instansi kuat sendiri. Namun, lemah saat harus bekerja sama.

Integrasi Sistem dan Tantangan Penganggaran

Dalam kajian administrasi publik, kondisi ini disebut sebagai digital era governance oleh Patrick Dunleavy. Negara tidak boleh lagi bekerja sendiri-sendiri. Ia harus menjadi satu sistem yang terhubung melalui data.

Namun, di Indonesia, proses ini belum selesai. Sistem masih berjalan sendiri. Integrasi belum menyeluruh.

Masalah lain muncul dari penganggaran. Pemerintah berfokus pada program prioritas dengan alokasi dana yang besar. Sementara itu, program lain kekurangan anggaran.

Dampaknya langsung terasa. Setiap sektor bergerak dengan kemampuan yang berbeda-beda, sehingga integrasi menjadi sulit dicapai. Sebagian sektor dapat melaju lebih cepat, sementara yang lain tertinggal dan tidak mampu mengikuti ritme yang sama.

Padahal, layanan publik saling terkait. Jika satu bagian lemah, sistem pun ikut terganggu.

Karena itu, anggaran bukan hanya soal uang. Ia merupakan bagian dari sistem kerja negara. Tanpa pembagian yang seimbang, integrasi tidak akan berjalan.

Seamless sebagai Cara Negara Bekerja

Pada akhirnya, pemerintahan seamless bukan sekadar soal teknologi. Ia juga bukan sekadar soal transisi kekuasaan. Ia membahas cara negara bekerja setiap hari.

Negara harus bekerja sebagai satu sistem, di mana data terintegrasi, keputusan selaras, dan layanan publik saling terhubung.

Untuk itu, dibutuhkan keselarasan antarlembaga, antardaerah, dan antarnegara. Tanpa itu, sistem hanya terlihat modern, tetapi tidak benar-benar terintegrasi.

Momentum sudah ada. Arah kebijakan sudah jelas. Tantangan utamanya adalah pelaksanaan. Pemerintahan yang seamless menuntut perubahan cara kerja dan pengurangan ego sektoral.

Pertanyaannya sederhana: Apakah negara siap bekerja sebagai satu sistem?

Selama negara belum bekerja sebagai satu sistem, seamless akan tetap menjadi janji—bukan kenyataan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aplikasi Favorit Hardware Enthusiast, CPU-Z dan HWMonitor, Diduga Terinfeksi Malware
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Mahasiswa Hukum UI Diduga Lakukan Pelecehan Seksual di Grup Chat, FHUI Telusuri
• 36 menit lalukumparan.com
thumb
Insiden Penumpang Tahan Pintu Kereta Cepat, Pengelola Whoosh Bersuara
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
Advokat Mesti Menguasai KUHAP dan KUHP Baru
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sidang Eksaminasi UI: Intervensi Riza Chalid dalam Kasus Pertamina Lemah Secara Hukum
• 13 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.