Saat menjelang perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, muncul sebuah bocoran mengejutkan. Menurut laporan eksklusif media Iran “Iran International”, Komandan Garda Revolusi, Ahmad Vahidi, secara kuat ikut campur dalam proses negosiasi. Ia terlibat dalam penentuan anggota tim, agenda, serta perwakilan negosiasi, yang memicu konflik sengit dengan Ketua Parlemen Iran, Ghalibaf, dan Menteri Luar Negeri, Abbas Araghchi.
Vahidi kini bekerja sama dengan pihak militer untuk menekan tim perunding, dengan tegas melarang agar “program rudal” tidak dimasukkan ke dalam agenda pembicaraan. Pertikaian sengit di kalangan elit Iran ini membuat prospek perundingan menjadi tidak optimis.
EtIndonesia. Pada Jumat (10 April), laporan media “Iran International” mengungkapkan bahwa Ahmad Vahidi tengah berusaha keras ikut serta dalam perundingan. Ia juga mendesak agar Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Mohammad Bagher Zolghadr, dimasukkan ke dalam tim untuk berangkat ke Islamabad dan bernegosiasi dengan pihak Amerika.
Namun, tokoh utama dalam perundingan kali ini—Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi—menentang keras langkah tersebut.
Terkait isi perundingan, Ahmad Vahidi dan Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi bersikeras bahwa program rudal Iran tidak boleh dibahas. Mereka bahkan bekerja sama untuk menekan Ghalibaf agar menyetujui hal ini.
Di sisi lain, meskipun informasi dari Iran tidak transparan, sejumlah indikasi menunjukkan adanya perpecahan serius di tingkat elit. Misalnya, Duta Besar Iran untuk Pakistan, Reza Amiri Moghadam, sempat mengumumkan pada Kamis (9 April) bahwa tim negosiasi Iran akan tiba di Islamabad hari itu, namun kemudian menghapus pernyataannya. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa para pemimpin di Teheran mengalami perpecahan tajam terkait isi, batasan, dan sikap dalam perundingan.
Bahkan sebelum perundingan dimulai, konflik internal di tingkat tinggi Iran telah membayangi prospek hasil pembicaraan.
Pada hari Jumat, Pakistan telah menetapkan area dalam radius 3 kilometer di sekitar Hotel Serena Islamabad—tempat delegasi AS dan Iran menginap serta melakukan perundingan—sebagai zona merah dengan pengamanan penuh.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Ghalibaf tiba-tiba menulis di platform X bahwa syarat perundingan adalah Amerika Serikat harus mencairkan seluruh aset Iran, serta Lebanon harus mencapai gencatan senjata. Ia juga mengklaim bahwa Amerika telah menyetujui syarat-syarat tersebut.
Namun, Ketua delegasi Amerika sekaligus Wakil Presiden, JD Vance, sebelum berangkat ke Islamabad pada hari Jumat, kembali menegaskan bahwa perjanjian gencatan senjata tidak mencakup Lebanon.
Terkait pernyataan Gedung Putih melalui juru bicaranya Karolina Leavitt pada Kamis yang menegaskan bahwa Iran harus menyerahkan uranium yang diperkaya dan berpotensi digunakan untuk memproduksi senjata nuklir, hingga kini Iran belum memberikan tanggapan resmi yang jelas.
Dalam beberapa pekan terakhir, Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat tinggi AS berulang kali menyatakan bahwa kepemimpinan Iran sedang terpecah parah, dengan berbagai faksi saling berebut kekuasaan, serta menyampaikan pesan yang berbeda kepada publik dan kepada pihak Amerika.
Perundingan yang akan berlangsung besok akan sangat menentukan, dan hasilnya kini menjadi perhatian besar berbagai pihak.
Dilaporkan oleh Ren Hao, wartawan NTD di Washington DC.





