JAKARTA, KOMPAS.TV - Guru Besar Politik dan Keamanan Unpad Muradi memberikan pandangannya mengenai posisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di tengah pusaran konflik dengan Iran.
Dalam perkembangan terakhirnya, AS-Iran telah melakukan perundingan dengan dimediasi Pakistan, meskipun akhirnya tidak mencapai kesepakatan.
Dalam kondisi saat ini, Muradi menyebut Trump dalam posisi yang kritis dan sudah mendapat desakan dari dalam maupun luar negeri.
"Saya bilang dari awal bahwa dalam negeri maupun luar negeri posisi Trump itu posisi kritikal, posisi kritis. Kita mau mau mengatakan apa pun, langkah yang dilakukan oleh Trump itu akan maju kena mundur kena," katanya dalam program Breaking News KompasTV, Minggu (12/4/2026).
Jika Trump memilih maju, menurutnya Presiden AS itu tidak akan punya teman kecuali Israel.
Sementara jika memilih mundur, kata dia, dalam negeri pun Trump tidak dalam posisi yang kuat.
Baca Juga: Iran Batasi 12 Kapal Per Hari di Selat Hormuz, Tarif Melintas Rp34 Miliar untuk Setiap Tanker
Ia mengatakan kepercayaan mayoritas masyarakat AS saat ini sudah mulai menurun kepada Trump.
"Kekuatan Trump cuma tinggal satu, kelompok konservatif yang masih banyak tinggal di pedesaan US (United States/AS)," katanya.
Menurutnya, kelompok tersebut sampai sekarang masih keras mendukung langkah-langkah Trump karena tidak melihat realitas di AS.
Terkait kondisi saat ini, di mana AS dan Iran melakukan perundingan meskipun tak mencapai kesepakatan, Muradi menilai Trump sedang mengulur waktu.
Menurutnya, hal itu dilakukan Trump karena di internal militer AS sendiri, Trump sudah tidak dalam posisi didukung penuh.
Ia menyebut saat ini ada dua isu yang berkembang di internal militer AS terkait konflik dengan Iran.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- donald trump
- trump
- as
- amerika serikat
- iran
- pakistan





