BOGOR, KOMPAS.com - Suasana trotoar di Jalan Ir. H. Juanda, Kota Bogor, tampak berbeda dibanding trotoar jalan lainnya.
Jika trotoar di Jalan Dewi Sartika dipenuhi pedagang kaki lima (PKL), di Jalan Ir. H. Juanda justru terlihat bersih dari PKL dan dipadati warga yang duduk berhadapan sambil fokus pada papan catur.
Mata mereka tajam mengamati pergerakan lawan, memperkirakan langkah berikutnya untuk membalas serangan yang mengancam pertahanan.
Baca juga: Pramono Minta Pembasmian Ikan Sapu-sapu Diperluas ke Seluruh Jakarta
Kuda milik Andon (65) harus tumbang setelah benteng milik Wawan (71) meluncur dari tengah papan menuju jantung pertahanan lawan.
Meski kalah, Andon tidak menunjukkan kekecewaan. Ia dan Wawan justru tertawa sambil menata ulang bidak catur untuk memulai giliran berikutnya.
KOMPAS.com/REGI PRATASYAH VASUDEWA Suasana permainan catur di trotoar Jalan Juanda, Kota Bogor, pada Minggu (12/4/2026).
Andon bercerita bahwa sejumlah orang yang berasal dari komunitas Catur Gajah Ganda maupun di luar komunitas sengaja datang ke trotoar Jalan Ir. H. Juanda untuk bermain catur.
"Memang datang sendiri. Mereka datang sendiri karena memang komunitasnya komunitas kesenangan, jadi mereka hobi semuanya itu. Hiburan, hiburan," kata Andon saat ditemui Kompas.com di Jalan Juanda, Kota Bogor, Minggu (12/4/2026).
Ia menjelaskan, komunitas Catur Gajah Juanda sudah ada sekitar tahun 2019. Komunitas ini terbentuk dari sejumlah orang yang iseng bermain catur di trotoar Jalan Ir. H. Juanda.
Total ada sekitar 30 orang yang menjadi anggota di komunitas tersebut. Hampir setiap hari sejumlah anggota meramaikan trotoar tersebut sampai malam hari.
"Tiap hari. Bahkan kadang-kadang kalau seandainya memang mereka kegiatannya macam-macam, jadi kadang-kadang malam juga ada," lanjutnya.
Sekitar 10 papan catur biasanya memenuhi trotoar Jalan Juanda. Saat hujan turun, mereka berpindah ke dalam gang atau warung yang hanya mampu menampung sekitar lima papan, namun permainan tetap berlanjut.
Baca juga: Lahan Tanah Abang Diperdebatkan GRIB Hercules dan Menteri Ara, Begini Pandangan Pakar
"Kalau hujan masuk ke situ (warung), bisa muat berapa orang. Paling lima papan. Kalau di sini (trotoar) mah bebas," jelas dia.
KOMPAS.com/REGI PRATASYAH VASUDEWA Suasana permainan catur di trotoar Jalan Juanda, Kota Bogor, pada Minggu (12/4/2026).
Menurut Andon, siapa pun yang ingin bermain catur di lokasi itu tidak perlu mengeluarkan biaya. Cukup membawa strategi dan keinginan untuk menang. Penantang juga diperbolehkan membawa papan catur sendiri.
Ia menambahkan, tidak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan mancanegara pun kerap tertarik ikut bermain.
"Bebas, free di sini. Siapa pun boleh, kadang bahkan kalau ada turis lewat, mereka ikut main. Turis yang bule-bule itu, mereka kalau lewat gitu lihat, ada yang main. Karena kesenangan aja itu," ujarnya.