JAKARTA, KOMPAS.TV - Iran dan Amerika Serikat (AS) gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan di Islamabad, Pakistan.
Praktisi hubungan internasional (HI) Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja mengatakan ketidaksepakatan tersebut menyiratkan AS gagal menghitung kalkulasi kekuatan Iran.
Ia juga menilai pernyataan AS yang menyebut negosiasi dengan Iran gagal terlalu terburu-buru, terlebih hanya dengan pembicaraan yang berlangsung 21 jam, padahal kerusakan yang terjadi imbas perang sudah demikian besar dan kompleks.
"Justru buat saya jadi satu tanda tanya, apakah Amerika Serikat ini benar-benar niat melakukan negosiasi atau dengan mengatakan gagal ini menjadi semacam sinyal bahwa mungkin saja ada serangan berikutnya lagi terhadap Iran," katanya dalam program Sapa Indonesia Malam KompasTV, Minggu (12/4/2026).
Baca Juga: Negosiasi AS-Iran Tak Menemukan Titik Temu, Perang akan Pecah Lagi? | BERUT
Sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance mengatakan negosiasi dengan Iran di Islamabad, Pakistan, telah berakhir tanpa mencapai kesepakatan.
"Kabar buruknya adalah kita belum mencapai kesepakatan. Dan saya pikir itu adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk dibandingkan bagi Amerika Serikat," ujar Wakil Presiden AS, JD Vance, Minggu, sebagaimana dilansir AP/US Network Pool, dipantau dari tayangan video YouTube KompasTV.
Ia pun mengatakan pihaknya akan kembali ke AS tanpa adanya kesepakatan dengan Iran.
Vance menyebut pihaknya dalam perundingan itu telah menjelaskan kepada pihak Iran mengenai hal-hal yang bersedia AS akomodasi dan yang tidak.
Ia mengklaim telah menjelaskan hal itu sejelas mungkin, tetapi menyebut pihak Iran tidak menerima persyaratan pihaknya.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV, AP/US Network Pool/IRINN/PTV
- iran
- amerika serikat
- as
- perundingan iran as
- perundingan as iran
- pakistan





