Pantau - Kawasan budidaya ikan nila di Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menjadi penopang pangan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat melalui produksi yang mencapai puluhan ton per bulan.
Budidaya dilakukan di keramba jaring apung di Sungai Mahakam dan melibatkan puluhan kelompok pembudidaya.
Ketua Pokdakan Gawi Baimbai Sejahtera, Muhmajadi, menyebut ikan nila telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Nila-nila ini telah mengangkat ekonomi keluarga kami, meski pun perjalanan untuk mencapai posisi saat ini tidak mudah," ujarnya.
Dari 36 petak keramba, produksi mencapai sekitar satu ton per bulan, sementara satu kelompok pembudidaya mampu menghasilkan lebih dari 10 ton per bulan.
Secara keseluruhan, Kampung perikanan Loa Kulu memiliki sekitar 40 kelompok pembudidaya yang menopang lebih dari 1.000 rumah tangga.
Budidaya ikan nila dipilih setelah wabah Koi Herpes Virus pada 2005 yang membuat pembudidaya beralih dari ikan mas ke komoditas yang lebih tahan penyakit.
Kepala DKP Kaltim, Irhan Hukmaidy, menyebut kawasan ini strategis bagi ketahanan pangan daerah.
"Pengembangan kawasan ini memiliki peran sangat strategis, yang bisa mencukupi kebutuhan protein antar-daerah di Kaltim," katanya.
Kehadiran Ibu Kota Nusantara membuka peluang pasar baru dengan kebutuhan ikan nila diproyeksikan mencapai sekitar 12 ton per bulan.
Pasokan dari Loa Kulu mulai dikirim ke kawasan sekitar IKN untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pemerintah daerah juga mendorong peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan, termasuk kerja sama pendidikan dengan Institut Teknologi Bandung.
Budidaya dilakukan dengan prinsip Cara Budidaya Ikan yang Baik serta penggunaan obat herbal untuk menjaga ekosistem.
Produksi perikanan budidaya Kutai Kartanegara tercatat mencapai 126.139 ton per tahun, dengan Loa Kulu menyumbang sekitar 10.229 ton per tahun.
Meski demikian, tantangan seperti kenaikan harga pakan dan perubahan iklim masih dihadapi, sehingga diperlukan inovasi teknologi dan kolaborasi berkelanjutan.




