JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi Rival (15), bukan nama sebenarnya, duduk diam di kelas bukan sekadar tuntutan sekolah, melainkan tantangan yang harus ia hadapi setiap hari.
Siswa kelas 9 di salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) kawasan Jakarta Selatan ini kerap berusaha mengikuti pelajaran dengan baik. Namun, pikirannya sering melayang tanpa bisa ia kendalikan.
“Aku niat dengerin, tapi tiba-tiba pikiranku ke mana-mana,” ujar Rival saat ditemui Kompas.com di rumahnya di Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026).
Baru beberapa menit mencoba fokus, konsentrasinya bisa hilang begitu saja. Ketika guru tiba-tiba mengajukan pertanyaan, ia kerap terkejut karena merasa tertinggal materi.
Baca juga: Borgol Bocah Penderita ADHD, Staf Keamanan Sekolah di AS Hadapi Gugatan
Situasi ini tak jarang berujung pada teguran dari guru, bahkan menimbulkan rasa malu di depan teman-temannya.
Pengalaman tersebut membuat Rival sempat mempertanyakan dirinya sendiri. Ia merasa berbeda dan menganggap dirinya tidak mampu seperti siswa lain.
“Kadang mikir, kenapa aku enggak bisa kayak yang lain ya?” tuturnya.
Kesulitan tak berhenti di ruang kelas. Tugas sekolah pun menjadi beban tersendiri, bukan karena ia tidak mau mengerjakan, melainkan kesulitan untuk memulai.
Ketika tugas menumpuk, ia merasa kewalahan hingga akhirnya menunda. Saat tenggat waktu mendekat, barulah kepanikan datang.
“Kalau tugasnya banyak, aku jadi bingung mulai dari mana. Akhirnya malah enggak dikerjain dulu, numpuk,” ujar Rival.
Baca juga: Cuaca Ekstrem Terjang Bekasi, Puluhan Pohon Tumbang di 5 Kecamatan
Di tengah berbagai tantangan, harapan sederhana muncul dari Rival dan ibunya: dipahami.
Rival berharap orang-orang di sekitarnya tidak lagi langsung menghakimi.
“Pengen orang-orang lebih ngerti, jadi enggak langsung nge-judge,” kata dia.
Pengalaman seperti Rival bukanlah hal yang jarang terjadi pada anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), yakni gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan fokus, kontrol impuls, dan regulasi diri.
Peran Orangtua, Menciptakan Ruang AmanDi balik perjalanan Rival, ada peran besar sang ibu, Sarah (39), yang membesarkan Rival seorang diri.
Sebagai orangtua tunggal, ia harus membagi waktu antara pekerjaan, urusan rumah, dan mendampingi anaknya.
“Jujur tidak mudah, karena semua dijalani sendiri. Tapi saya selalu ingat, kalau bukan saya yang memahami dia, siapa lagi?” kata Sarah.
Sejak kecil, sekitar usia 6 tahun 3 bulan, Sarah sudah melihat tanda-tanda bahwa Rival berbeda.
Ia sangat aktif, sulit diam, dan mudah terdistraksi. Namun saat itu, ia menganggapnya sebagai hal yang wajar pada anak-anak.
Baca juga: Angin Puting Beliung Terjang Bekasi, Puluhan Pohon Tumbang dan Akses Jalan Lumpuh
Baru ketika Rival duduk di bangku sekolah dasar dan guru mulai mengeluhkan kesulitannya dalam fokus, Sarah mencari tahu lebih dalam. Proses menerima diagnosis ADHD pun tidak mudah.
“Saya sempat menyalahkan diri sendiri, merasa mungkin saya kurang dalam mendidik,” ujarnya.
Namun, setelah mendapatkan penjelasan dari profesional, ia mulai memahami bahwa kondisi tersebut bukan kesalahan siapa pun.
Dalam keseharian, Sarah berusaha menciptakan “ruang aman” bagi Rival. Di rumah, ia tidak ingin anaknya merasa dihakimi.
Ketika Rival kesulitan fokus atau melakukan kesalahan, ia memilih untuk tidak langsung memarahi.
“Saya lebih banyak mengajak dia ngobrol, pelan-pelan, supaya dia merasa didengar,” ucapnya.





