FAJAR, MAKASSAR — Di tengah tekanan zona degradasi dan tuntutan konsistensi, PSM Makassar menemukan sosok tak terduga yang perlahan menjelma menjadi elemen penting dalam sistem permainan mereka. Nama itu adalah Dusan Lagator—bek yang tidak hanya menjawab keraguan, tetapi juga memperluas definisi peran seorang pemain bertahan dalam sepak bola modern.
Laga kontra PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung, Bantul, menjadi panggung pembuktian yang sempurna. Dalam pertandingan tersebut, Lagator tidak dimainkan di posisi alaminya sebagai bek tengah, melainkan digeser ke sisi kanan pertahanan. Sebuah keputusan yang di atas kertas mengandung risiko, mengingat adaptasi posisi bukan perkara sederhana—terutama dalam laga dengan tekanan tinggi.
Namun justru di situlah nilai lebihnya muncul.
Sejak menit awal, Lagator tampil disiplin mengawal sektor kanan. Ia tidak hanya menjaga struktur pertahanan tetap rapi, tetapi juga mampu membaca pergerakan lawan dengan presisi. Tujuh intersepsi yang ia catatkan menjadi bukti bagaimana ia mampu memutus aliran serangan sejak fase awal. Ditambah satu sapuan krusial serta dua ball recovery, kontribusinya dalam fase defensif terasa begitu dominan.
Bahkan kartu kuning yang ia terima bisa dilihat sebagai bagian dari komitmen—bahwa dalam situasi tertentu, ia berani mengambil risiko demi menjaga stabilitas tim.
Namun cerita Lagator tidak berhenti di pertahanan.
Dalam sepak bola modern, nilai seorang bek semakin ditentukan oleh kontribusinya dalam fase menyerang. Dan di sinilah Lagator menunjukkan dimensi lain dari permainannya. Dengan 22 umpan sukses, satu crossing, serta keberanian naik membantu serangan, ia memperlihatkan bahwa dirinya bukan sekadar “penjaga garis belakang”.
Puncaknya terjadi di masa injury time.
Saat pertandingan tampak akan berakhir imbang, Lagator muncul sebagai pembeda. Menyambut sepak pojok dari Victor Luiz, ia melepaskan sundulan yang tak mampu dibendung kiper lawan. Gol di menit 90+8 itu bukan hanya memastikan kemenangan 2-1, tetapi juga menandai gol perdananya bersama PSM—sebuah momen yang sarat makna.
Lebih dari sekadar angka di papan skor, gol tersebut adalah simbol kepercayaan yang terbayar lunas.
Penampilan itu membuatnya layak dinobatkan sebagai man of the match. Namun yang lebih penting, ia mengirim pesan kuat kepada manajemen dan publik: bahwa dirinya siap menjadi bagian dari proyek jangka panjang klub.
Dalam konteks yang lebih luas, kehadiran Lagator memberi warna baru pada lini belakang PSM. Selama ini, kekuatan bertahan lebih banyak bertumpu pada duet Yuran Fernandes dan Aloisio Neto. Keduanya dikenal sebagai bek tengah tangguh sekaligus ancaman dalam situasi bola mati.
Kini, dengan hadirnya Lagator—yang bahkan mampu bermain di lebih dari satu posisi—PSM memiliki fleksibilitas taktik yang lebih luas.
Kemampuan bermain sebagai bek tengah maupun bek kanan menjadikannya aset berharga. Dalam kompetisi panjang seperti BRI Super League, fleksibilitas seperti ini sering kali menjadi pembeda. Cedera, akumulasi kartu, atau kebutuhan rotasi tidak lagi menjadi masalah besar ketika ada pemain yang mampu mengisi beberapa peran dengan kualitas yang relatif setara.
Di bawah arahan Bernardo Tavares, profil pemain seperti Lagator sangat sesuai dengan filosofi permainan yang diusung. Disiplin dalam bertahan, efektif dalam menyerang, serta mampu membaca momentum—semua elemen itu tercermin dalam performanya.
Lebih jauh, mempertahankan Lagator bukan hanya soal satu pertandingan atau satu gol penting. Ini tentang menjaga kontinuitas dan identitas yang mulai terbentuk di tubuh PSM. Sebelumnya, manajemen telah mengamankan kontrak pemain kunci seperti Yuran Fernandes dan Victor Luiz. Langkah tersebut menunjukkan keinginan untuk mempertahankan fondasi tim.
Dalam kerangka itu, Lagator bukan lagi sekadar pelengkap. Ia adalah bagian dari struktur.
Sepak bola modern menuntut bek yang tidak hanya kuat dalam duel, tetapi juga cerdas dalam membaca permainan dan berani mengambil peran dalam fase ofensif. Lagator memenuhi kriteria itu—bahkan melampauinya dengan kemampuan bermain multi posisi.
Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah ia layak dipertahankan, melainkan sejauh mana PSM ingin membangun tim di sekeliling pemain-pemain seperti dirinya.
Karena dalam perjalanan panjang sebuah musim, tim yang mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan evolusi adalah tim yang memiliki peluang terbesar untuk bertahan—atau bahkan melangkah lebih jauh.





