ADHD Sering Tak Disadari hingga Dewasa

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Banyak orang baru menyadari dirinya mengidap attention-deficit hyperactivity disorder atau ADHD setelah menghadapi masalah dalam pekerjaan atau relasi sosial. Gangguan ini kerap luput terdeteksi sejak masa kanak-kanak sehingga dampaknya baru terasa ketika seseorang beranjak dewasa.

Dokter spesialis kejiwaan di Rumah Sakit Hermina Tangkuban Perahu Malang, Dennada Bagus Putra Perdana, mengatakan, sebagian besar pasien datang tanpa mengetahui bahwa dirinya memiliki ADHD.

”Biasanya yang menyadari justru orang terdekat. Ada seorang istri yang datang karena mengeluhkan perubahan perilaku suaminya yang kinerjanya menurun. Awalnya saya menduga kelelahan kerja. Namun, setelah wawancara mendalam, terlihat adanya riwayat ADHD,” ujar Dennada.

Menurut dia, ADHD merupakan gangguan neuropsikiatri yang berkaitan dengan ketidakseimbangan zat kimia di otak. Kondisi ini ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap.

Gejala tersebut sebenarnya sudah muncul sejak usia dini. ADHD umumnya dapat dikenali sebelum anak berusia 12 tahun. Namun, banyak kasus tidak terdeteksi karena perilaku anak kerap dianggap sekadar aktif atau nakal.

ADHD ditandai dengan kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap.

”Anak dengan ADHD biasanya sangat aktif, tetapi juga mengalami gangguan perhatian. Sayangnya, ini sering dinormalisasi sebagai perilaku biasa,” kata Dennada.

Padahal, tanpa penanganan, kondisi tersebut dapat berlanjut hingga dewasa. Sejumlah studi menunjukkan 60-70 persen anak dengan ADHD tetap membawa gejalanya hingga usia dewasa.

Pada fase dewasa, bentuknya bisa berbeda. Bukan lagi sekadar hiperaktif, melainkan muncul sebagai kegelisahan, kecemasan, dan kesulitan mempertahankan fokus dalam pekerjaan.

”Orang dewasa dengan ADHD cenderung cepat bosan. Mereka sulit mengerjakan satu tugas dalam waktu lama. Bahkan, sering kali harus bergerak atau berjalan untuk membantu menenangkan diri,” ujar Dennada.

Kondisi ini dapat berdampak langsung pada kualitas hidup. Dalam dunia kerja, misalnya, penderita ADHD bisa terlihat ceroboh, sulit menyelesaikan tugas, atau tidak konsisten.

Namun, di balik tantangan itu, ada potensi yang bisa berkembang. Dennada menilai individu dengan ADHD kerap memiliki kemampuan hiperfokus pada bidang yang diminati. ”Kalau lingkungannya memahami, mereka bisa sangat produktif di bidang yang sesuai dengan minatnya,” katanya.

Baca JugaTren ADHD pada Orang Dewasa Meningkat, Bagaimana Menanganinya?
Terlambat disadari

Pengalaman hidup Innocent Jacobus (33), atau Inno, warga Sorong, Papua Barat, menjadi gambaran bagaimana ADHD kerap tidak terdeteksi sejak dini. Ia baru mengetahui kondisinya setelah memasuki usia dewasa.

Sejak kecil, Inno mengalami hiperaktivitas dan kesulitan fokus. Hal ini membuatnya kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah, terutama yang disampaikan secara lisan. ”Di sekolah, saya harus ekstra belajar agar bisa mengikuti standar. Saya lebih mudah memahami pelajaran yang tertulis,” ujarnya.

Perilakunya yang aktif bahkan membuatnya kerap dicap nakal. Ia juga beberapa kali terlibat perkelahian dengan teman sebaya.

Memasuki usia dewasa, tekanan justru semakin terasa. Ia merasa kesulitan menjalani pekerjaan yang menuntut rutinitas tetap, sementara lingkungan, termasuk keluarga, memiliki ekspektasi berbeda.

”ADHD itu sangat tidak menyukai pekerjaan yang menetap, tapi orangtua berharap saya bekerja kantoran. Kadang kita harus memakai ’topeng’ seolah-olah baik-baik saja,” ujarnya.

Kesadaran untuk memahami kondisi diri muncul ketika ia mulai mencari informasi tentang kesehatan mental. Pada 2021, ia memutuskan berkonsultasi ke psikiater. Namun, diagnosis ADHD baru ditegakkan beberapa tahun kemudian, saat ia berusia 30 tahun.

Kisah lain datang dari Jayapura, Papua, yang menunjukkan pentingnya deteksi dan pendampingan sejak dini. Juliawati Harimu (44) menghadapi kondisi serupa pada anaknya, Gio (13), yang didiagnosis ADHD sejak usia empat tahun, disertai gangguan bicara dan epilepsi.

Baca JugaPeningkatan Prevalensi ADHD pada Anak dan Dewasa serta Cara Mengobatinya

Mengetahui kondisi itu, Juliawati memilih fokus mendampingi anaknya. Ia bahkan meninggalkan pekerjaannya demi memastikan perkembangan anak berjalan optimal. ”Kami percaya rasa bahagia adalah obat paling manjur. Itu yang kami usahakan setiap hari,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan hasil. Kondisi Gio perlahan membaik, baik dari sisi perilaku maupun kesehatan. Juliawati juga mengembangkan pola makan sehat berbasis pangan lokal untuk anaknya. Upaya ini bahkan berkembang menjadi usaha kuliner yang kini melibatkan masyarakat sekitar.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa dukungan keluarga menjadi faktor kunci dalam penanganan ADHD. Tanpa pemahaman yang tepat, anak berisiko mengalami stigma dan perlakuan yang keliru.

Pentingnya deteksi dini

Dennada menekankan, pemeriksaan perlu dilakukan ketika gejala mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, baik dari sisi perilaku, emosi, maupun fungsi sosial.

”Biasanya lingkungan terdekat yang lebih dulu menyadari. Dari situ, penting untuk segera mencari bantuan profesional,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa individu dengan ADHD tidak perlu merasa harus mengumumkan kondisinya kepada publik. Namun, kejujuran tetap penting ketika dibutuhkan.

Selain itu, penerimaan diri menjadi langkah awal yang krusial. Dengan memahami kondisi sendiri, penderita dapat membangun strategi yang sesuai, seperti membuat rutinitas kerja yang lebih fleksibel.

Lingkungan pun memiliki peran besar. Pemahaman, toleransi, serta penyesuaian sistem kerja dapat membantu individu dengan ADHD tetap produktif.

Lebih jauh, pengalaman Inno dan Juliawati menunjukkan satu hal: ADHD bukan sekadar hambatan, melainkan kondisi yang membutuhkan pemahaman bersama.

Tanpa deteksi dini dan dukungan lingkungan, gangguan ini bisa menjadi beban yang berkepanjangan. Namun, dengan penanganan yang tepat, individu dengan ADHD tetap dapat berkembang, bahkan menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Baca JugaKesehatan Jiwa dan Raga untuk Warga


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Inter Kian Dekat Raih Scudetto Setelah Menang Dramatis atas Como
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Halalbihalal PALASARA Indonesia, Momentum Perkuat Silaturahmi dan Nilai Kebudayaan
• 21 jam laluterkini.id
thumb
5 Lokasi SIM Keliling Jakarta 13 April 2026, Catat Jadwal dan Syaratnya
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
140 Situs Budaya Iran Rusak Akibat Serangan, Kerugian Capai Rp837 Miliar
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Geliat BREN di Tengah Gejolak Indeks Global, Kebut 1 Gigawatt Intip Prospeknya
• 10 menit lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.