Penulis: Ama Boro Huko
TVRINews, Flores Timur
Gunung Api Lewotobi Laki-Laki mengalami erupsi selama tiga hari berturut-turut, sejak 11 hingga 13 April 2026. Tinggi kolom abu yang teramati bervariasi, mulai dari tidak terlihat hingga mencapai ratusan meter.
Erupsi pertama terjadi pada Sabtu, 11 April 2026, sekitar pukul 11.15 WITA. Saat itu, kolom abu tidak teramati secara visual, namun aktivitas erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 7,4 milimeter dan durasi sekitar 2 menit 3 detik.
Erupsi kedua terjadi pada Minggu, 12 April 2026, pukul 19.58 WITA. Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal, mencapai sekitar 500 meter di atas puncak atau kurang lebih 2.084 meter di atas permukaan laut. Aktivitas ini terekam dengan amplitudo maksimum 14,8 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 59 detik.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali melaporkan erupsi pada Senin, 13 April 2026, pukul 08.24 WITA. Tinggi kolom abu teramati sekitar 300 meter di atas puncak atau kurang lebih 1.884 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang, condong ke arah barat daya dan barat.
“Terjadi erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 300 meter di atas puncak,” demikian keterangan resmi PVMBG dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/4/2026).
Erupsi tersebut terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 4,4 milimeter dan durasi sekitar 1 menit. Meski terjadi aktivitas erupsi beruntun, PVMBG masih menetapkan status Gunung Api Lewotobi Laki-Laki pada Level II (Waspada).
“Kami merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi,” tulis PVMBG.
Selain itu, masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti arahan pemerintah daerah serta tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya.
PVMBG juga mengingatkan potensi bahaya lanjutan berupa banjir lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung.
“Masyarakat agar mewaspadai potensi banjir lahar hujan, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” lanjutnya.
Wilayah yang perlu diwaspadai antara lain Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote.
Sementara itu, warga yang terdampak hujan abu vulkanik diimbau menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut untuk menghindari gangguan pada sistem pernapasan.
“Gunakan masker untuk mengurangi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan,” tutup PVMBG.
Editor: Redaksi TVRINews





