VIVA – Ekonom dari INDEF, Rizal Taufikurahman, menilai kontribusi PT Freeport Indonesia sebesar Rp187 triliun sepanjang 2021–2025 menjadi bukti pentingnya sektor tambang dalam menopang penerimaan negara. Ia menekankan, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan kapasitas industri pertambangan dalam menghasilkan nilai ekonomi signifikan, terutama saat harga komoditas global meningkat.
Menurut Rizal, kontribusi yang berasal dari dividen dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) itu telah menjadi salah satu penopang utama keuangan negara dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan kontribusi, khususnya pada periode harga komoditas tinggi, mencerminkan peran strategis perusahaan tambang dalam menjaga stabilitas fiskal.
“Kontribusi PTFI besar dan menjadi salah satu penopang penting penerimaan negara dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika terjadi boom harga komoditas. Ini menunjukkan kapasitas perusahaan dalam menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan,” ujarnya dalam keterangan tertulis Minggu 12 April 2026.
Meski demikian, ia menilai masih terdapat ruang perbaikan agar manfaat tersebut bisa lebih stabil dan berkelanjutan. Salah satunya melalui penguatan kebijakan fiskal yang mampu mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor sumber daya alam.
Rizal mendorong pemerintah untuk mengembangkan skema yang lebih adaptif, seperti mekanisme berbasis windfall saat harga komoditas melonjak. Selain itu, penguatan hilirisasi dinilai penting agar nilai tambah tidak hanya berhenti pada kegiatan ekspor bahan mentah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi lebih besar di dalam negeri.
Ia juga menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan penerimaan negara agar kontribusi besar dari sektor tambang dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Menurutnya, langkah ini akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus meningkatkan efektivitas penggunaan anggaran.
Di sisi lain, PT Freeport Indonesia tercatat telah menyumbang total US$11,04 miliar atau sekitar Rp187 triliun melalui dividen dan PNBP sepanjang periode 2021–2025. Kontribusi ini terdiri dari dividen sebesar US$8,96 miliar dan PNBP US$2,08 miliar.
Rizal menilai, dengan pengelolaan kebijakan yang tepat, kontribusi besar tersebut tidak hanya menjadi penopang jangka pendek, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi nasional yang lebih berkelanjutan.





